House of Memory

The only source of knowledge is experience. -Albert Einstein-

Hari ini gue baru saja mendarat di Jakarta setelah sabtu kemarin departemen tempat gue bekerja mengadakan semacam annual gathering di Yogyakarta. Agak teler karena setelah malam minggu sebelumnya kami berjoget sampai jam 12 malam, I had to catch the first flight at 6.00 am. Awalnya gue jujur ya agak malas dengan kegiatan ini karena ini adalah kali ketiga gue ke Yogyakarta *dapatpiringcantik*. Tapi ya karena “diwajibkan” dan gue pun melaju ke sana.

Continue reading

Advertisements

Blog yang Berdebu Tebal, Terapi Jiwa, dan Label Lebay

Sudah lama tidak menjamah tempat ini, akhirnya mumpung barusan rapat di KaPeKa dibatalkan secara mendadak *alias sudah sampai di sana di siang bolong ini tapi baru diberitahu di sana*, mumpung lagi MamaDedehKW *bos eikeh yang seperti Mama Dedeh Aseli hihihihi* lagi rapat, ya melipirlah gue ke sini.

Buat Mbak BayuTrie, Mbak Chicaz dan Teh erry Bibi Teliti, maafkan saya yang baru akan menjawab komentar kalian hari ini, terima kasih lho suka mampir.

Kalau beberapa post rajin keluar hanya karena itu post dari status path saya. Hanya sekedar itu saja yang gue bisa update di sini, huhuhuhu ceydih banget dech. Gara-gara itu, gue pun jarang setor tulisan ke MD *maafkan mbak Hani dan Lita*.

Continue reading

Tetang Bekerja Part 2: Demotivated

Sumpah dech, lebih enak jadi anak SD daripada bekerja.

Capek hehehehe.

Gak ding. Tapi memang bekerja is more challenging. Kadang-kadang gue merasa setimpal gak ya hasil gue capai dengan pengorbanan gue, yang termasuk:

  1. Ninggalin anak-anak untuk dinas luar kota.
  2. Pulang larut malam.
  3. Mata panda kayak Pak SBY kalau kata teman gue *efek tidur jam 2 bangun jam 6 selama 3 minggu*.
  4. Dimarahin atau dihargai *sakitnya tetap di sini cuy*.
  5. Dimusuhin coworkers *oh ini sie dia iri saja gue pintar hahahaha* *keplak*.

Continue reading

Tentang Bekerja Part 1: Hati Galau

Sebenarnya gak boleh sie gue mengeluh… apalagi soal pekerjaan. Gak enak sama kantor gue, tapi cuma bisa bilang saat ini adalah puncak kegalauan dalam karir ini. Bukan masalah gak naik pangkat, bukan masalah ditahan untuk bisa sekolah (masalah sie tapi keep on praying tiap jam), tapi masalah nasib masa depan gue dan beberapa teman dalam perkariran. Harusnya sie gak boleh mengeluh, kan bukan bakal di-PHK, tapi ya gitu dech.

Jadi ya gak enak bekerja selama hati ini gundah gulana. Siapa sie mau bekerja tanpa ada rasa aman di hati ya gak? Mau marah sama siapa? Kata teman gue, hidup gue bagai “no-free-will“. Benar sie hahahaha.

Di titik ini gue belajar menghargai apa yang gue dapat selama bekerja di (kedua) institusi ini. Kalau dulu sering mengeluh, sering menjelek-jelekkan kantor, bos atau rekan kerja, saat ini I learn to appreciate in the hardest way. Dan gak enak.

Continue reading