Cepat Ada Yang Dikejar, Lama Ada Yang Ditunggu

“Hatop Adong Naniaduna, Leleng Adong Pinaimana…”

Sebuah Petuah Masyarakat Batak.

Kemarin gue bercerita tentang Tuhan itu tidak pernah tidur, mungkin terlalu samar ya kenapanya hihihihi… ya kalau boleh gue bercerita, sebenarnya di Bulan Mei 2013 kemarin gue mendapat berita sedih sekaligus bahagia.

  1. Tidak diterima di program hukum untuk graduate di London School of Economics and Political Science, London, Inggris.
  2. Diterima di program hukum juga untuk graduate program di Leiden Universiteit, Leiden, Belanda.

Mari kita berucap, Alhamdulillah…

Ya mungkin setelah masa-masa per-karir-an yang suram dan penuh tangisan *lebay, yasss*, dua berita di atas adalah kabar baik bagi gw dan keluarga kecil kami.

Continue reading

Advertisements

Susahnya

untuk sekolah lagi…

unconditional offer sudah di tangan tetap ada kendala saja dari sisi internal… Please, help me God…

Before I Depart: Sebuah Surat elektronik Perpisahan

Kemarin sore secara serentak kami seluruh pegawai di instansi ini mendapatkan sebuah surat elektronik dari The Big Boss.

Dear friends, colleagues, and comrades of arms, itu kalimat pembuka dari Beliau. Ditujukan kepada kami semua sebagai gerombolan siberat eeeeh comrades of arms hehehehe (ndak mungkin kan gue menyatakan diri sebagai sahabat beliau hihihihi). Bapak ini, atau sebut saja sebagai The Big Boss adalah salah satu pimpinan kantor ini yang paling membekas di hati gue khususnya. Beberapa perubahan yang beliau lakukan, lebih banyak kepada sisi internal institusi, yaitu ke sisi sumber daya manusia. Untuk gue pribadi, gue baru mengalami pertama kali kenaikan take home pay yang didasarkan pada merit based income... ya mari kita mengucapkan syukur Alhamdulillah atas kenaikan sebesar nol koma x-x-x kali ini.

Continue reading

Gusti Allah Mboten Sare: Part 1

Kurang lebih 5 tahun gue menunggu hari ini tiba.

Dahulu ketika berada di puncak, gue lupa sama yang di bawah.

Dahulu setiap pekerjaan dipercayakan selesai di tangan gue.

Gue, yang hanya pegawai rendahan, tak bergelar tinggi, hanya bermodal selembar ijasah S1, dan berusaha untuk memenuhi semua keingin setiap orang.

Dahulu, gue yang selalu antusias menerima pekerjaan, gue anggap sebagai menantang kemampuan sendiri.

I challenged myself to go further.

Dahulu bangga menyebutkan diri sebagai workaholic.

Dahulu selalu tersenyum disebut ahlinya di pekerjaan.

Dan dahulu selalu menangis ketika sekeliling tetap mendapatkan nilai terbaik, sedangkan gue hanya mendapatkan nilai rat-rata.

Continue reading

Menjadi Pegawai Negeri (Sipil)

Beberapa waktu lalu, di saat sedang mempertimbangkan career path bersama, di saat terpikir untuk menjadi dosen atau pengusaha sebagai pekerjaan sampingan, tercetus omongan ini dari mulut Mr. Y:”kalau gw keluar dari PNS, nanti di keluarga gak ada yang PNS lagi dong…”. Gue baru sadar kalau kami berdua itu sangat pegawai negeri sekali, maksudnya ya kerjanya di seputar pemerintahan. Dan baru sadar karena pengaruh lingkungan juga, both our parents are PNS, our grandparents are civil servants too. Jadi, menjadi pegawai negeri (sipil) seperti sudah mendarah daging.

Tapi faktor lingkungan bukan satu-satunya faktor pendorong kami berdua untuk menjadi pegawai negeri (sipil), ada tentunya banyak faktor pertimbangan lain dong. Mungkin gue boleh cerita sedikit bagaimana menjadi pegawai negeri, siapa tahu anak-anak gue pengen mengikuti jejak bapak ibunya membaca blog ini dan saat itu gue sudah keburu pikun hihihihihi… Tapi kurang lebih gue akan menjawab pertanyaan yang suka dilempar oleh orang-orang di sekitar gue, terutama yang ingin menjadi PNS.

Continue reading