House of Memory

The only source of knowledge is experience. -Albert Einstein-

Hari ini gue baru saja mendarat di Jakarta setelah sabtu kemarin departemen tempat gue bekerja mengadakan semacam annual gathering di Yogyakarta. Agak teler karena setelah malam minggu sebelumnya kami berjoget sampai jam 12 malam, I had to catch the first flight at 6.00 am. Awalnya gue jujur ya agak malas dengan kegiatan ini karena ini adalah kali ketiga gue ke Yogyakarta *dapatpiringcantik*. Tapi ya karena “diwajibkan” dan gue pun melaju ke sana.

Kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan Merapi Tour, semacam tour keliling daerah Sleman yang beberapa tahun lalu terkena musibah letusan Gunung Merapi dengan kendaran off road semacam Jeep. Kami dibawa keliling lokasi meletusnya Gunung Merapi yang saat ini masih terdapat beberapa lokasi yang masih gersang dan berdebu, melihat keadaan sekitar terutama dimana letak lokasi jalur lava.

Sisa letusan G. Merapi. dok. pribadi.

Sisa letusan G. Merapi. dok. pribadi.

 

Sekitar Gunung Merapi. Dok. pribadi.

Sekitar Gunung Merapi. Dok. pribadi.

Lalu kami diajak untuk melihat semacam Museum Merapi, peringatan pada kebesaran Gunung Merapi. Sebenarnya bukan kebesaran gunung itu sendiri, tapi menurut gue pribadi kepada kebesaran Yang Maha Esa itu sendiri. Beberapa foto menunjukkan dahsyatnya saat erupsi terjadi. Gue jadi teringat cerita Mbak Maridjan almarhum yang masih setia menunggu di saat terjadinya erupsi dimaksud, konon jenazah beliau ditemukan dalam keadaan bersujud.

Salah satu percakapan dengan Little Miss Koala pagi tadi, dimana gue menceritakan tentang keadaan di saat erupsi Gunung Merapi terjadi dan apa saja yang tersisa. Dan perbincangan kami berujung kepada cerita Little Miss Koala sewaktu berjalan bersama Teteh dari minimarket malam hari.

Waktu sangat gelap Bu, dan Teteh ketakutan jalan dalam gelap. Tapi Z ingat dan Z bilang ke Teteh kan ada Allah yang selalu ada di depan kita dan melindungi kita. Kenapa harus takut?

Ya, kenapa harus takut?

Mungkin jika ditanya kenapa beberapa penduduk di sekitar Gunung Merapi saat erupsi masih tetap berada di sana sampai saat-saat terakhir, apakah mereka percaya Yang Di Atas sana akan melindungi mereka?

Ya, kenapa harus takut?

Ketakutan yang kita ciptakan sendiri. Ketakutan akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Ketakutan yang sebenarnya menghambat kita.

Kata Khalil Gibran, we choose our joys and sorrows long before we experience them. Kita hanya bisa menduga, merencanakan dan ketakutan. Tapi kuasa itu hanya milik Sang Khalik, Dia-lah yang menentukan jalan kita.

Kenapa harus takut?

Karena gue takut kehilangan.

Karena gue takut sendirian.

Mungkin karena itu gue belum melangkah lebih jauh, terutama masalah sekolah ini.

Hambatan yang terjadi bukan karena dari luar, tapi semata karena gue sendiri yang ketakutan.

Just because I’m freaking out without reason.

Ketakutan yang menciptakan hambatan, ketakutan mungkin dengan dasar tapi berlebihan.

Kita yang menciptakan hambatan itu sendiri.

Dan kita yang terjatuh di dalamnya.

Padahal Tuhan itu ada. Kenapa kita harus takut?

Teringat gue berkata kepada Lil’Miss Koala bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan otak agar kita dapat mengatasi hambatan dan kesulitan kita sendiri.

Hidup tanpa hambatan bukan hidup Z, kata gue kepada Lil’Miss Koala.

 

IMG_8187

taken by my friend.

Dan kata-kata itu lebih tepat untuk diri gue sendiri, yang ketakutan mengambil satu langkah maju.

Advertisements

2 thoughts on “House of Memory

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s