A House Called Home

Rumah kami bisa kami sebut berukuran cukup. Tidak besar, tidak kecil. Bukan rumah mewah juga bukan rumah kumuh. Sederhana.

Kami bangga dengan rumah ini, hanya alasan sepele sie, rumah ini adalah hasil tabungan kami berdua. Ini rumah pertama kami, yang kami beli 4,5 tahun yang lalu *berarti masih ada belasan tahun lagi rumah ini lunas dong*. Kami beli dengan pertimbangan yang panjang,

Tahun depan insyaAllah rumah kami akan kami rencanakan untuk dilakukan renovasi, terutama untuk mengakomodir kamar si Dua Koala dan teteh-teteh yang membantu kami selama ini dan membuat ruangan khusus untuk kami melakukan ibadah harian.

Rumah ini menjadi rumah yang “terpilih” karena beberapa faktor, harga dan fasilitas di sekitarnya. Harga yang cukup untuk kantong pasangan muda seperti kami dan fasilitas transportasi umum yang mudah dijangkau.

Kurang lebih dapat kami sebut rumah ini “kami banget dech”.

kesayangans

kesayangans

Jika ditanya kenapa tidak memilih rumah di daerah Bogor atau Jakarta dekat dengan orang tua kami, jawabannya sie hanya kami ingin adil kepada mereka berdua dan kami rasa di sini kami memulai lembaran baru kami.

Pada awalnya di daerah rumah kami bisa dikatakan belum ada pembangunan fasilitas yang berarti. Kalau kata teman-teman gue sie tempat jin buang anak dech hahahaha. Maka daripada itu kami menghias rumah ini supaya dibuat agar kami betah.

Seperti gue berhasil mendapatkan tempat tidur impian gue plus bonus standing oven. Rencananya ketika kami melakukan renovasi rumah, kami akan menata rumah ini menjadi benar-benar a place called home. Salah satunya ruang makan dengan jendela yang besar dimana akan menjadi pusat aktivitas keluarga kami. Gue bermimpi di sana gue dan anak-anak akan sibuk masak-masakan atau bergossip bertiga.

Apakah rumah kami belum cukup homey?

Sebenarnya sangat homey sekali. Itu baru gue sadari bahwa hari ini setelah pulang rapat konsinyering di Aryaduta, ketika gue meihat si Kasur-Serta, hati gue bahagia sekali. Entah efek gue kurang tidur *rapat sampai jam 12 malam* atau memang gue rindu berat dengan suasana rumah ini. Bahkan ketika gue sedang di Bogor, gue suka merasakan homesick hihihi.

Terima kasih Tuhan kami diberikan sebuah rumah yang sangat istimewa. Please, bless our house and our family, semoga Tuhan selalu melindungi kami dan memberkahi kami di rumah ini. Aamiin.

Advertisements

One thought on “A House Called Home

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s