That Magical Spice

Mr. Y memiliki seorang tante, adik dari Ibu Mertua gue. Beliau menjadikan kegiatan masak memasak bukan sebagai sekedar hobi, namun juga sebagai mata pencaharian. Apapun yang dimasak oleh BuNdar, begitu kami memanggil beliau, pasti selalu enak. Sabtu malam kemarin, sepulang kami dari pengajian untuk 1000 hari sanak keluarga kami, kami bertiga, Mr. Y, gue dan Baby K, mengantar beliau ke rumah. Seperti biasanya sie yang kami nantikan, beneran kami nantikan kok hehehehe, adalah masakan beliau meskipun hanya sekedar left-over alias sisa-sisa. Karena si bayik kicik ingin minum susu, BunNdar membuatkan hot chocolate milk dengan cara memasukan bubuk Milo direbus dalam panci. See, apapun yang beliau sajikan pasti dibuat sungguh-sungguh meskipun akan memakan waktu.   Lalu sementara kami bertiga duduk di ruang tamu, beliau sibuk di dapur. Tiba-tiba beliau keluar dengan beberapa fillet ayam dan adonan tepung berbumbu. Langsung setelah dibumbuin, daging ayam dimaksud dimasukkan ke dalam wajan. Then voila, jadilah beberapa chicken katsu yang kata BuNdar dibawa ke rumah untuk oleh-oleh Mbak Lil’Miss K. Karena sudah larut malam, chicken katsu tersebut baru kami makan pagi tadi sepulang anak-anak berenang di Damai Indah Golf. Rasanya? Melebihi chicken katsu punya restoran. Terakhir gue makan seenak ini hanya di Ootoya. Perpaduan antara crunchy and very yummy. Padahal pas beliau memasaknya terkesan biasa-biasa saja lho.

Me: Kok bisa ya apapun yang dibuat BuNdar  pasti enak. Mr. Y: Ya begitu, BuNdar punya tangannya yang memang begitu.

Sedang gue kalau masak lebih banyak down nya dibanding up nya hihihihi. Sebenarnya sudah ketahuan sie di saat gue malas-malasnya masak, lagi bete, pasti masakan gue berantakan. Dulu waktu zaman masih rajin membaca serial Chicken Soup for the Soul ada salah satu passage yang bercerita bahwa seorang ibu dikagumi bagaimana dia mengolah masakan. Suatu saat anaknya bertanya kok bisa selalu enak. Lalu sang ibu bercerita, bahwa dia punya “Bumbu Ajaib” yang disimpan dalam suatu tempat bumbu dan selalu dimasukkan dalam setiap masakannya. Lalu ketika anaknya membuka tempat bumbu dimaksud, sang anak menemukan di dalamnya secarik kertas bertuliskan kata “LOVE”. Sederhana ya. Seperti kata Gordon Ramsay bahwa cooking is about passion. And there is no better love than the passion itself. Have you find out your passion yet? Gue yakin pasti kalian sudah menemukan passion kalian, hal yang membuat kita bersemangat untuk menghadapi hari Senin. Membuat bersemangat mengerjakan segala sesuatu. Dan ketika dikerjakan dengan hati, semua hasilnya akan menjadi hasil yang terbaik ya tidak?   Seperti sepiring kwetiaw goreng di Kantin Departemen Hankam depan kantor gue, sederhana tapi rasanya bagi gue luar biasa, karena sang koki selalu bersemangat mengerjakan pesanan kami. Cinta, hasrat dan semangat, “bumbu ajaib” yang diperlukan untuk memulai lembaran besok pagi. Selamat jelang hari Senin ya!

Advertisements

4 thoughts on “That Magical Spice

  1. Cichaz.com says:

    A simple note dgn tulisan LOVE.. Wiih pasti enak banget itu masakannya 🙂
    Bener banget tuuu segala sesuatu yg dibuat dan dikerjakan dengan dasar cinta & passion akan menghasilkan sesuatu yang emotionally incredibly good.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s