Blog yang Berdebu Tebal, Terapi Jiwa, dan Label Lebay

Sudah lama tidak menjamah tempat ini, akhirnya mumpung barusan rapat di KaPeKa dibatalkan secara mendadak *alias sudah sampai di sana di siang bolong ini tapi baru diberitahu di sana*, mumpung lagi MamaDedehKW *bos eikeh yang seperti Mama Dedeh Aseli hihihihi* lagi rapat, ya melipirlah gue ke sini.

Buat Mbak BayuTrie, Mbak Chicaz dan Teh erry Bibi Teliti, maafkan saya yang baru akan menjawab komentar kalian hari ini, terima kasih lho suka mampir.

Kalau beberapa post rajin keluar hanya karena itu post dari status path saya. Hanya sekedar itu saja yang gue bisa update di sini, huhuhuhu ceydih banget dech. Gara-gara itu, gue pun jarang setor tulisan ke MD *maafkan mbak Hani dan Lita*.

Sekarang gue bikin resolusi baru sie, minimal 1 tulisan per minggu akan gue buat, resolusi yang berat sie, tapi membuat 1 tulisan mungkin adalah terapi juwa yang paling baik buat gue yang sebentar lagi … gak meledak kok… hanya sekedar encok dengan pekerjaan hahahaha… Bagi gue menulis bukan karena gue penulis, gue masih jauh dari Kak Sondang *dan gue baru tahu kalau lagi melahap cerpen-cerpen cantuknya di Femina itu ada nama Kak Sondang :)… Kakak ai lop yu*, bukan juga blogger lah blog cuma 2 gak pernah dikasih asupan tulisan pula. I prefer to call myself as an analyst. Legal analyst at work, life analyst in my heart. Apaan sie yas :P. Gue malu kalau menyebut diri sebagai blogger, apalah daku dibanding blogger jagat raya di sana, gak bisa branding apalagi OOTD hihihihi. Kayaknya gue akan pilih menyebutkan diri sebagai analis saja, pas banget dengan kartu nama gue yang resmi pasa banget dengan profesi gue sesungguhnya bukan. Tapi menulis memang suatu terapi yang paling sukai, karena lebih berkesan ada kerjaan wkwkwkwkwk… maksud gue sie kalau gue diganggu sama anak-anak gue bisa bilang gue lagi kerja. Coba gue lagi baca atau main iPad, mana percaya gue lagi kerja, yang pasti mereka akan membajak diriku.

Oh ya apakah kalian mendapatkan catatan redaksi Mbak Petty S. Fatimah di Majalah Femina yang tentang betapa beliau tergelitik tentang labeling yang sedang marak-maraknya terutama di ranah emak-emak?

PettySF Labeling

Beliau *idolaku sejak zaman Majalah GADIS* bertanya begitu mudahnya kita memberikan suatu profesi karena telah melakukan satu-dua pekerjaan. Misalnya menyebut diri sebagai blogger tapi blog tidak pernah di-update (saya itu saya), menyebut diri penulis padahal baru satu-dua tulisan atau menyebut diri desainer padahal baru satu-dua kali membuat koleksi busana. Menurut beliau penghargaan terhadap yang benar-benar melakukan profesi itu jadi terabaikan.

Ya seperti yang kalian ketahui, gue pribadi bukan fan dengan namanya labeling, yang dari ibu-bekerja-lah, ibu-yang-utuh-lah, anak-asi-lah, anak-organik-lah… Status memang penting sie tapi lebih penting cara kita mencapai status itu sendiri.

Mungkin serupa tapi tak sama, gue teringat cerita Bapak Ibu gue, Bapak gue adalah lulusan Master dari Negara si Paman Sam, Ibu gue adalah Guru Besar. Hal penting untuk dicantumin dalam kegiatan kampus ya, tapi apa penting disebut setiap saat di luar kegiatan kampus? No. Itu prinsip mereka sampai gue berlinang air mata meminta mereka legowo agara gelar mereka dicantumkan dalam undangan pernikahan gue sendiri anaknya mereka karena permintaan keluarga besar kami. Gelar hanya untuk kegiatan kampus dan penelitian. Titik.

Ya gue tahu betapa bangga jika kita bisa memberi embel-embel S-S-S-S di belakang nama kita, apalagi kalau buat di kancah politik. Theeeeen sebuah status menjadi begitu mudah didapat dengan apa, dengan sedikit merogoh kocek.

Ingat kan kasus Raja Dangdut dengan gelar Profesor-nya dari universitas ndak jelas letaknya, ingat juga di mantan artis bintang iklan sabut yang dimusuhin jagat twitter gara-gara pencantuman gelar doktornya. Belum lagi beberapa orang tertangkap membeli ijasah palsu dari situs online? Have you ever heard about Barkley University, Columbiana or Grantown Uni yet? Nope, it is not typos, but the Pakistani man behind that fake diplomas sites gets millions dollar of revenue every year. Kalian teman-teman alumni, yang susah payah menembus UMPTN, yang susah payah bertemu dosen-killer demi mencapai target SKS, yang capek-capek mencari fotokopian, naik kereta naik angkutan umum, lalu kalian bertemu dengan orang-orang yang bisa membeli ijasah palsu online tanpa kuliah-bikinpaper-apapunitu?

Sakitnya itu disini…

Mungkin itu sama dengan artis-artis yang mempunyai katanya bakat desain, lalu menyebut diri desainer, atau apapun itu lah.

Bisa baca satu dua kalimat di film, bilangnya seniwati.

Atau tiba-tiba out of nowhere pacaran-dengan-artis-terkenal-masa-lalu-tunangan-putus-karena-pacaranya-cium-artis-lain-di-lokasi-syuting-lalu-melalalng-buana-di-layar-pergosipan-dengan-mobil-mewah-lalu-tanpa-karya-menyebut-diri-artis. Huuuuuft…

Respect is for those who deserve it, not for those who demand it.

Semuanya perlu usaha, tanpa usaha tidak akan bertahan lama, kata Mbak Petty SF jangan sekedar menjadi pemain musiman ya.

Advertisements

4 thoughts on “Blog yang Berdebu Tebal, Terapi Jiwa, dan Label Lebay

  1. dani says:

    Ups. Makasih Yaaas. Nampol kanan kiri ini postingan. Gw udah ada mau posting tentang nulis menulis dan syukurlah baca ini dulu. Bisa gw ubah lah isi tulisnya.

  2. Rose says:

    The adage no pain, no gain” is true here, people, and
    also Disturbance Training awards just those which
    are willing to place in the job.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s