Tetang Bekerja Part 2: Demotivated

Sumpah dech, lebih enak jadi anak SD daripada bekerja.

Capek hehehehe.

Gak ding. Tapi memang bekerja is more challenging. Kadang-kadang gue merasa setimpal gak ya hasil gue capai dengan pengorbanan gue, yang termasuk:

  1. Ninggalin anak-anak untuk dinas luar kota.
  2. Pulang larut malam.
  3. Mata panda kayak Pak SBY kalau kata teman gue *efek tidur jam 2 bangun jam 6 selama 3 minggu*.
  4. Dimarahin atau dihargai *sakitnya tetap di sini cuy*.
  5. Dimusuhin coworkers *oh ini sie dia iri saja gue pintar hahahaha* *keplak*.

Kalau sudah begini, gue baca motivation letter gue untuk pengajuan aplikasi sekolah:

Since then, being a part of decision makers always fascinated me. My passion for books also helped me to understand the life of many famous leaders and their views. I dream that someday I will be part of a history. I do believe that a high-quality decision can be achieved only from good analysis and knowledge, and in my opinion a high-quality decision will always related with legal issues. From this point of view, my interest to study law had increased.

Tambah lagi kalau bertanya as working mom, maka gue baca yang ini lagi:

As my status of a working mother of two daughters, I am fully committed to finish my graduate study and to achieve a higher and prestigious position in B**** XXXXXXXX. I do believe that my perseverance is the key to success to live my dreams in the near future and will be a good example for my daughters, hoping that they will someday follow my path doing their best for this country.

Bentar gue mau ngakak dulu, bwahahahahahaha… okeh, gue lebay ya, namanya juga jualan buat sekolah ahahahahaha…

Memang dealing with other people is more challenging. Gak usah dilihat dari labeling working mother, SAHM, full time mother *paling sebel sama label label beginian*, kalau ketemu sama orang lain pasti ada dong gak enaknya ya gak.

Kalau “derita” di kantor pasti 11-12 sama teman-teman di luar sana… kalau dijabarin nie sebagian termasuk:

  1. Punya senior yang suka gak masuk, suka disposisiin sampai kena masalah dengan audit internal kantor gara-gara limpahan kerjaan dese yang gak kelar.
  2. Kerjaan kok gak selesai-selesai dikasih ke kita.
  3. Back stabbing dengan muka yang manis dari co-worker.
  4. Ada suatu masanya kok dinilai secara gak adil.
  5. Halangan sekolah.
  6. Gagal dalam promosi naik jabatan, padahal sudah dijanjikan syurga, sudah mindahin kaki di kepala kepala di kaki, sudah me-postpone rencana sekolah.

Been there, guys.

Paling sakit sie yang nomor 6, sakitnya teteup di sini. Beneran sakit banget buat macam so-called-full-of-dedication macam gue. Wah pas tahu itu, nangisnya mau meraung-raung. Pulang rasanya hampa. Apalagi ya gitu, “kalah” oleh orang lain yang menurut kita “siapa sie dia?”.

Rasanya pengen menyerah.

Benci sama semua orang.

Gak percaya sama Bos.

Ngapain gue ngorbanin ini itu ternyata gak dihargai.

Lalu gue terpikir, ah gue sudah males kerja, buat apa? Buang-buang waktu!

Lagipula yang lain pun juga kerjanya biasa saja gak masalah, gak dipecat juga.

Weekend itu gue cuma menggerutu. Tiap mau nangis, mana Mr. y gak ada lagi (lagi dinas) ya gue cuma sedih sendirian. Untungnya tiap gue mau nangis eh anak-anak masuk ke kamar ngajak main. Blessing in disguise. Mungkin karena mereka saja gue bisa kuat.

Gue merenung lama saat itu…

Apakah itu yang gue inginkan? Gak mau bekerja lagi. Demotivated.

Lalu gue ingat pertanyaan gue kenapa banyak senior-senior yang sudah menjelang pensiun atau umurnya jauh di atas gue kok bekerjanya ya gitu-gitu saja.

 “Mereka sudah demotivasi, Yas.”

Mereka sudah tidak punya gairah bekerja. Ya bekerja karena kebutuhan bukan karena passion lagi. Mereka masuk kerja pulang kerja sudah seperti robot.

Memangnya gue mau begitu?

Gak mau.

Mungkin akhirnya gue mengerti kenapa banyak kalau kita lihat di instansi di kantor ada kumpulan orang yang bekerja kok kayak hidup segan tapi mati (gue selalu sebut) gak mampu (bukan gak mau). Gak ada kerjaan, ngobrol, tidur atau baca koran sepanjang jam kerja, kabur ke mall atau lagi Pasar Tanah Abang. Karena mereka semua terdemotivasi berat.

Yes, gue tahu rasanya berat.

Tapi gue baik bertanya, apa kita siap menerima pertanyaan: “gue bilang juga apa? gak pantes kan dia dipromosiin, tuch baru gitu saja langsung gak mau bekerja bagus lagi.”

Itu konsekuensi yang bakal kita terima lho.

Masih ingat postingan sebelumnya? Tetang cerita teman senior gue yang terdemotivasi.

Awalnya dia memang kerjanya ya so-so saja.

Sudah kelihatan sie gelagatnya suka menolak pekerjaan atau mendisposisi ke yang bawahnya.

Suatu saat dia gak dapat promosi, malah yang lebih muda angkatannya yang melaju ke atas.

Lalu?

Semakin parahlah kerja dirinya.

Gue ingat Mbak Ade pernah ngomong begini:

“Gue tuch sakitnya di sini ya gak promosi. Tapi gue gak mau nunjukkin gue sedih di kantor. Jangan sampai mereka mengira gue terpuruk. Gue harus nunjukkin kalau gue baik-baik saja, dan kerjaan gue malah tambah baik.”

We’ll prove them they had made a mistake by not promoting us.

Jadi kalau kata orang tua, before quitting, just remember why you start. 

Jangan menyerah.

Memang sakitnya di sini *tunjuk dada*, tapi just don’t quit.

Balik lagi kata Pak Sotar: akan indah di ujung jalan… dan meski ujung jalan saja belum kelihatan hahaha.

Kalau misalnya lagi galau, bingung kenapa harus kerja profesional, nah ingat saja gambaran orang-orang mungkin yang kita ketemu di instansi publik atau di kantor, yang sedang ngobrol gak jelas, atau baca koran sepanjang hari tanpa kerjaan… Nah apa kita mau seperti itu?

Gue pastinya gak mau.

Gue pernah menulis di sini, Tuhan Itu Gak Tidur lho. Alhamdulillah tahun lalu setelah sakitnya itu di sini, gue dapat promosi, gue ketemu teman rekan kerja dan bos yang baik, gue dapat kesempatan ke Paris tambah gue dapat perpanjangan sekolah.

Kurang apalagi?

Masalah pasti gak akan selesai, tapi ya akhirnya gue sedikit demi sedikit mulai bisa menebak arah akhir jalan itu.

Kalau ada yang saat ini ingin menyerah mungkin karena pekerjaan di kantor, please don’t get easily demotivated. Gak enak diomongin kayak senior gue itu, digossipin, apalagi ditambah: gue bilang juga apa.

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0CAYQjB0&url=http%3A%2F%2Fwww.funchap.com%2Fmotivational-quotes%2F&ei=1ON2VLmrAoeIuATa1ICwBg&psig=AFQjCNH6Pis5UgJ-0BmESq8ZxhDfEYYM_A&ust=1417159246397822

Advertisements

6 thoughts on “Tetang Bekerja Part 2: Demotivated

  1. Sandrine Tungka says:

    Jadi inget masa-masa awal sampai pertengahan kerja baca postingannya mba, demotivasi tingkat dewa buat aku :D.
    Tapi bener banget, mau sampai kapan terpuruk nantinya jadi bumerang buat diri sendiri. Kalau kesempatan bukan datang dari mereka kita yang harus bikin kesempatan itu sendiri, and hey I made it 😀
    Ijin copy picquotes nya ya mba 🙂 Terima kasih…

  2. De says:

    gw kalo lagi stress di kantor pasti buka2 folder yang isinya foto anak2 saat kami liburan, sama inget2 KPR yang belum lunas juga … biasanya langsung semangat kerja lagi *cetek*

    • Mrs. Tyasye says:

      KPR itu nendangnya disini juga hihihi… Kadang kadang mending aku maksain pulang tenggo, gpp dimarahin sehari sama bos tapi begitu main sama anak anak besok semangat lagi kerja 😆

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s