Tentang Bekerja Part 1: Hati Galau

Sebenarnya gak boleh sie gue mengeluh… apalagi soal pekerjaan. Gak enak sama kantor gue, tapi cuma bisa bilang saat ini adalah puncak kegalauan dalam karir ini. Bukan masalah gak naik pangkat, bukan masalah ditahan untuk bisa sekolah (masalah sie tapi keep on praying tiap jam), tapi masalah nasib masa depan gue dan beberapa teman dalam perkariran. Harusnya sie gak boleh mengeluh, kan bukan bakal di-PHK, tapi ya gitu dech.

Jadi ya gak enak bekerja selama hati ini gundah gulana. Siapa sie mau bekerja tanpa ada rasa aman di hati ya gak? Mau marah sama siapa? Kata teman gue, hidup gue bagai “no-free-will“. Benar sie hahahaha.

Di titik ini gue belajar menghargai apa yang gue dapat selama bekerja di (kedua) institusi ini. Kalau dulu sering mengeluh, sering menjelek-jelekkan kantor, bos atau rekan kerja, saat ini I learn to appreciate in the hardest way. Dan gak enak.

Sebenarnya apa yang gue dapatkan selama ini sudah jauh lebih beruntung dari berjuta-juta manusia, menurut gue. Tidak ada yang susah dari pekerjaan gue sebenarnya. Tinggal masuk on time, duduk manis, ketak-ketik, bikin pendapat atau analisa yang baik, lalu beraktualisasi diri plus mau nambah ilmu pun bisa dikirim gratis sampai negeri Iceland hihihihi. Gampang kan?

Apalagi gak ada kegalauan tentang gimana asuransi kesehatannya, dana pensiun, pinjaman yang belum terbayarkan. Gak ada yang susah kerja di kantor gue, bener dech.

Tapi bekerja dengan hati yang gak tenang itu gak enak.

Sakitnya itu di sini *tunjuk hati yang retak*.

Untungnya sie gue masih ketemu orang-orang yang membuat gue tidak terdemotivasi. Bahwa gue dan teman-teman ini sudah terbukti ketangguhannya lho, mau dihantam apapun tetap terkejar deadline *bangga*.

What is keeping me sane? Laughing a lot :). Eh beneran lho pepatah kalau kita bisa mentertawakan nasib buruk kita, kita bisa survive.

dapat dari pinterest

dapat dari pinterest

I feel sometimes much better after laughing meski kepala mau pecah dengan masalah persekolahan ini.

Ya mau dikata apa ya, kadang takdir memang kejam kata Mbak Dessy Ratnasari hahahaha.

Gak kok takdir gak kejam, cuma akan indah pada saatnya kata Pak Sotar *terus kapan akhir jalannya? sambil ngunyah keripik bikin tambah gendut*…

Ya tapi ketika mendengar cerita seorang teman yang gak ikut bareng-bareng gue di tempat ini, kerjanya cuma browsing, pulang tanpa menyelesaikan kerjaan, hobi disposisi ke anak buah, gak ada hasil karya nyata, gak pernah mau datang undangan rapat… rasanya… KZL.

Padahal tinggal duduk manis doang karena dia termasuk yang tidak ikut merasakan hal yang sama seperti gue dan teman-teman gue saat ini. Kalau lagi memang ngambek sama kantor, ya gak gitu lho. Kok malah demotivasi sie?

Sayang banget dengar cerita itu.

Pelajaran yang gue dapat dari masalah ini hanya satu, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih pedih daripada gue. Jadi, ya kalau memang office sucks, itu sie biasa. Tapi mungkin it’s better daripada buruh yang berdemo di luar sana. Ya gak?

Pelajaran kadang datang dalam bentuk yang kejam. Semoga sie cepat berakhir.

*Mau cepat-cepat bel pulang saja biar bisa peluk anak-anak di rumah :)*

Advertisements

7 thoughts on “Tentang Bekerja Part 1: Hati Galau

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s