Museum Ceria: Prasasti dan Memori

Dulu sekali sewaktu masih kecil gue pernah membaca sebuah buku, tentang memoar seorang anak yang sudah dewasa dalam merawat ibunya yang terkena Dementia atau Alzheimer. Di buku itu yang gue lupa banget judulnya, bercerita betapa sedihnya sang anak karena ibunya pun lupa pada dirinya dan semakin lama semakin kembali kepada sifat kekanak-kanakan. Kalau googling di wikipedia, gue banyak menemukan fakta bahwa penderita banyak yang mengalami disorientasi waktu, gangguan memori. Sedih ya. Banyak yang bilang taking care penderita Alzheimer itu pun juga cukup berat, karena perlu diawasi terus-menerus. Gue suka sedih kalau lihat tayangan orang tua (lansia) yang hilang, takutnya mereka sudah kehilangan orientasi arah. Para penderita Alzheimer tersebut selain diberikan pengobatan yang tepat juga dibantu untuk melakukan mental exercise, beberapa literatur menyatakan mental exercise ini dapat memberikan benefit yang banyak kepada penderita Dementia dan Alzheimer, seperti main catur atau puzzle crossword.
Tahukah teman-teman kalau bulan September ini bukan sekedar September Ceria tapi juga World Alzheimer’s Awareness Month?
Kebetulan nie, kemarin dapat e-mail dari Mbak Ajeng Museum Ceria, nah Museum Cerita menjadi media partner bagi tim pengabdian masyarakat dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia.
Tim Departemen Arkeologi Universitas Indonesia mengadakan kegiatan brain gym menggunakan aksara kuno dari prasasti koleksi Museum Nasional bagi penderita Alzheimer’s dan pendampingnya.
Kegiatan tersebut akan berlangsung setiap hari Kamis (4,11, 18 & 25) September 2014 pukul 13.00 – 15.30 WIB di Museum Nasional, Jl. Medan Merdeka Barat no. 12 Jakarta Pusat.

Yuuuuk ikutan yaaa

Yuuuuk ikutan yaaa

Mungkin ada teman-teman yang mempunyai kerabat atau sekarang teman-teman menjadi caregivers (gue acung jempol buat kalian), bisa ikut mendaftar pada acara dimaksud.
Kegiatan terapi bagi penderita Alzheimer’s di museum telah sukses dilaksanakan di banyak museum di dunia, misalnya di Museum of Modern Art (MoMA) di New York, dan Museum Liverpool, Inggris. Kalau dari bacaan yang gue dapat nie,  sepertinya acara seperti ini sukses banget dilaksanakan di beberapa museum di luar negeri. Kegiatan di Museum Nasional ini adalah yang pertama kalinya akan dilaksanakan di museum di Indonesia, dengan cara sangat orisinal karena menggunakan media terapi berupa aksara pada prasasti Indonesia.
Kalau dari pers release nya Departemen Arkeologi Universitas Indonesia Brain gym merupakan salah satu aktivitas yang dapat mempertahankan dan memperlambat menurunnya daya ingat. Kegiatan ini diperuntukan bagi penderita Alzheimer’s fase awal (Mild Cognitive Impairment) dan pendampingnya.
Serunya lagi: tidak dipungut biaya! GRATIS!
Kegiatan yang akan diselenggarakan dalam satu rangkaian brain gym adalah menonton film pendek mengenai prasasti pilihan, melakukan brain gym dengan aksara Palawa / Jawa Kuno sesuai prasasti, dan berbagi cerita memori masa lalu penderita sesuai tema pada prasasti.
Untuk berpartisipasi dalam acara ini peserta dapat menghubungi Retno  (0818-0882-8200) atau email ke prasastidanalzheimers@gmail.com. Kegiatan ini didukung oleh Center for Ageing Study Universitas Indonesia, Museum Nasional, dan berbagai media partner, serta dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia tahun anggaran 2014.
Advertisements

3 thoughts on “Museum Ceria: Prasasti dan Memori

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s