Soal Halal

Sekedar berbagi cerita.

Hari minggu kemarin kami, sepulang dari concert practice di Sekolah Balet Sumber Cipta Cipete, gue dan Lil’Miss Koala mampir ke Gandaria City. Kebetulan sambil menunggu Mr. Y berdiskusi dengan temannya soal renovasi rumah, kami melipir berdua ke sebuah Supermarket Lotte, yang seperti kita ketahui merupakan nama Brand dari Korea Selatan, dimana juga dijual makanan dari luar negeri.

Lil’Miss K tertarik dengan kemasan permen marshmallow yang gue perkirakan merupakan salah satu produk yang diimpor dari Amerika Serikat.

Lil’Miss K: Bu Boleh gak beli ini?

Me: Ini marshmallow. Nah ini coba dibaca, bahannya salah satunya terbuat dari gelatin.

Lil’Miss K: Gelatin itu apa?

Me: Gelatin itu adalah produk makanan yang diambil dari tulang hewan, bisa dari babi, sapi atau ikan.

Setalah penjelasan singkat itu, Lil’Miss K mulai sibuk menelusuri satu per satu kemasan permen, dibaca satu per satu apakah ada label halal atau tidak, atau mengandung produk tertentu yang haram.

Gue jadi ingat kejadian yang sama mungkin sekitar 25-30 tahun yang lalu. Setiap belanja dengan Ibu di Carrefour di kota kami Antony (Perancis), pasti gue kebagian tugas untuk membaca label ingredients setiap makanan minuman kemasan. Mana yang mengandung ekstrak babi alkohol mana yang tidak. Sebagai penduduk dengan agama minoritas, belum tentu kami bisa menemukan produk yang halal untuk dikonsumsi semudah di Indonesia. Meski kami tidak saklek banget tapi selama masih bisa dihindari kenapa tidak dihindari.

Oh ya karena gue sudah menyatakan sebagai siswa muslim, alhamdulillah di kantin sekolah makanan gue selalu dikhususkan apabila hari itu mereka menyajikan makanan haram. Sebagai negara yang katanya sekuler ya, di masa lalu itu Perancis lumayan mengakomodir lho, dengan mengganti menu sosi babi gue dengan sosis kambing. Lah ini mah membuat gue berkolesterol tinggi hihihihihi.

Di sini gue bukan mau bercerita masalah haram halal dosa gak dosa, semua diserahkan kepada masing-masing kok :).

Ada satu hal yang ingin gue tularkan kepada anak-anak gue:

Tahu tentang apa yang kita cerna, ya makanan ya minuman ya ilmu pengetahuan.

Punya ilmu memasak itu beneran membantu banget. Selama ini gue merasa banyak belajar dari kekhilafan di masa lalu banget. Boleh gak sie gue bilang alhamdulillah karena bisa bedain rasa daging ham/pork, arak, rhum, alkohol hahahaha. Pernah satu kesempatan gue lagi di Hotel Kuno, yang menyajikan makanan tempo dahulu, kok spaghetti gue dagingnya berasa gimana gitu. Langsung dech gue hentikan makanan tersebut *padahal mahal banget biaya room service dan gue kelaparan*, atau lagi mengunyah kue sus, berasa rhum-nya, langsung gue bilang teman gue untuk berhenti mengunyah karena dia sangat perhatian tentang kehalalan.

Atau kita membahas makanan dessert yang sedang in: diskusi dengan teman Kejora berakhir dengan kesimpulan bahwa gelatin itu bisa dari pork, beef atau fish.

Bapak gue kebetulan juga suka memberikan pengetahuan singkat seperti kenapa dahulu namanya “hamburger” sekarang namanya jadi “burger”, karena dahulu “hamburger” katanya menggunakan ham pork, setelah diprotes oleh komunitas Yahudi di AS maka menjadi “burger” dengan beef. entah benar ceritanya atau gak, tapi gue bisa waspada begitu menunya tertulis kata “ham”.

Atau gue dikasih tahu Bapak penggunaan kata “Bak” itu menunjukkan penggunaan daging dalam bahasa Hokkian, yang seiring zaman terspesialisasi ke daging babi. Konon begitu ceritanya, tolong dikoreksi ya kalau salah.

Kadang-kadang yang gue sebal adalah kalau yang punya toko atau punya produk gak mau terbuka mengenai apa yang dijual. Meski balik lagi gue pribadi gak strict banget (yang penting gak makan babi utuh hihihihi), tapi pernah gue bertanya apakah produknya pakai hal-hal yang tidak halal, eh si penjual malah sewot menjelaskan. Atau yang jual gak bisa menerangkan, misal pernah gue datang ke bakery terkenal, teman gue bertanya apakah sudah dapat Halal MUI, dia ngotot sudah punya di kantor pusat disimpannya tapi gak dipajang. Pas gue tanya apakah dia menjual tiramisu pakai telur, nah dia menerangkan tiramisunya pakai telur. Oke dech kakak, kalau pakai telur mentah berarti mematikan bakteri di telur pakai … hahahahaha.

Maksud gue bertanya hanya agar gue bisa memberikan informasi yang tepat ke teman-teman gue yang sangat peduli dengan label halal.

Kemarin gue ke P*ul di PP, gue langsung tanya kue yang gak pakai alkohol yang mana, apakah ham itu beef atau turkey atau babi (dan dijawab mereka tidak menggunakan babi). Padahal ini boulangerie dari Perancis lho, dan mereka menjawabnya dengan senyum. Catat ya, SENYUM.

Halal pun gak boleh sembarangan dipasang dong, halal itu bukan sekedar gak memakai bahan Babi… Sayang banget kalau banyak produk yang berani menulis Halal (tanpa ada sertifikasi dari lembaga, tapi pas ditanya juga ada alkoholnya).

Kalau baca definisi halal dari IFANCA (Islamic Food and Nutrition Council of America) Halal itu adalah begini:

Halal is an Arabic word meaning lawful or permitted. The opposite of halal is haram, which means unlawful or prohibited. Halal and haram are universal terms that apply to all facets of life. However, we will use these terms only in relation to food products, meat products, cosmetics, personal care products, pharmaceuticals, food ingredients, and food contact materials.

While many things are clearly halal or haram, there are some things which are not clear. Further information is needed to categorize them as halal or haram. Such items are often referred to as mashbooh, which means doubtful or questionable.

 All foods are considered halal except the following (which are haram):

  • Swine/Pork and its by-products
  • Animals improperly slaughtered or dead before slaughtering
  • Alcoholic drinks and intoxicants
  • Carnivorous animals, birds of prey and certain other animals
  • Foods contaminated with any of the above products

 Foods containing ingredients such as gelatin, enzymes, emulsifiers, and flavors are questionable (mashbooh), because the origin of these ingredients is not known.

Paling sayang juga kalau barusan gue makan di warung steak, warung itu memajang bahwa wagyu-nya impor dari Australia dan ada sertifikat halal Australia tapi balik lagi kenapa gak sekalian meminta label halal MUI for all the food they serve?

Ini terlepas dari desas desus bahwa untuk mendapatkan label halal itu tidak murah lho. Kalau memang apa yang dikhawatirkan bahwa label halal itu berbayar, ya menurut gue pribadi ya pemerintah wajib melindungi rakyatnya dalam hal ini memberikan kejelasan atas makanan yang dikonsumsi rakyatnya dong. Ini menurut gue bentuk perlindungan pemerintah kepada rakyat.

Sayangnya gue perhatikan banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu apakah makanan yang dikonsumsi itu halal, misal nie gue perhatikan kalau banyak gerai makanan asing bertebaran. tapi kenapa ya kadang gue sudah keburu duduk di meja restoran (dan gue pakai kerudung lho), pas gue tanya mas kuah ramen ini pakai pork bone broth atau fish broth? Baru dech dijawab. Kenapa baru dijawab kalau gue baru bertanya? Sebel kan apalagi yang bekerja di sana juga memakai kerudung. Sedih gue.

Tahukah bahwa kalau gue lagi perjalanan dinas menggunakan Singapore Airlines, ketika gue memilih minuman beralkhol, mbak pramugarinya langsung bilang: Mam, i want to informed you that this drink contains alcohol. Ini berlaku sejak sebelum gue pakai kerudung lho.

Ya semoga ya pedagang bisa sadar jangan sembarang menggunakan kata halal. Lebih baik jujur, toh rezeki gak kemana lho. Yang terpenting transparan lah, jujur memberitahukan bahan yang digunakan. Toh mau makan yang halal atau tidak balik ke urusan masing-masing.

Dan gue masih banyak belajar kok tentang agama yang gue anut.

Tapi gue gak suka tipu-tipu lah yaaaw :).

Advertisements

10 thoughts on “Soal Halal

  1. seerika says:

    eh….memangnya ada ramen pake kaldu babi di Indonesia? Gue pikir gerai2 ramen di Indonesia uda pasti dimodif resepnya untuk konsumer indonesia yang mayoritas muslim. Gerai2 mainstream yah…yang banyak di mall2 gitu, bukan yang speciality resto kaya resto2 asli jepang yang katanya banyak di sekitaran blok m

    • Mrs. Tyasye says:

      Yang pernah gue coba masuk adalah beberapa gerai yang khusus jual ramen di mall, pas masuk gue tanya dulu jawabannya ya pakai meski dia juga kadang menyajikan chicken broth, ini juga beberapa tahun terakhir ini. Gue kira gak bakal pakai kaldu babi Rik, karena setahu gue meski di Jepang ramen identik dengan kebanyakan kaldu babi (kalau udon dengan kaldu ikan), pasti di Indonesia harusnya dimodifikasi kayak penjual ramen langganan gue di mall zaman dulu (yg sayangnya dia skrg sudah menyatakan berganti menjual dengan kaldu babi). Sekarang sie mending gue tanya dulu sebelum masuk.

  2. bayutrie says:

    salam kenal mbak T. aq lagi blogwalking dan ketemu ini. menurut aq kalo di indonesia mostly para pedagang makanan itu kan hanya mikirin untung doang mbak. mereka takut kalo jelas2 mampangin makanan mereka pake pork broth ato alcohol pada gak ada yg beli. makanya mereka diem2 aja, kalo udah ditanya baru dijawab (kayak pengalaman dirimu itu 😦 ).jadi emang tinggal kitanya yang harus lebih hati2 dan lebih ‘bawel’ kalo makan diluaran :-). salam buat dua koalamu ya…….

    • Mrs. Tyasye says:

      Terima kasih mbak Bayu Trie telah mampir di blog saya. Mohon maaf bau bisa menjawab. Iya nie kenapa semua berpikir hanya untungnya saja. Sayangnya kalau saya kecewa adalah jika sesama muslim malah gak terbuka tentang halal dan tidak halalnya makanan. Terima kasih ya sudah mampir, salam buat yang di rumah ya.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s