Golput

Kompetitip dengan Dani yang bikin posting tentang Pemilu hahahaha, gak ding sebenarnya ingin menulis tentang kecenderungan untuk golput di kalangan pemilih umur menengah. Umur menengah maksudnya ya umur kita-kita ini lho, gak terlalu ingusan untuk mengerti politik dan gak terlalu tua yang pernah terjebak di kepemerintahan orde baru. Kenapa banyak yang golput?

Karena banyak pilihan yang gak sesuai dengan kriteria kita yang idealis.

Kriteria kita terlalu idealis? Heem gak juga sie tapi mau bagaimana lagi kalau calon-calon tersebut gak sesuai dengan aliran yang kita anut, kalau gak ya memang calonnya hampir ajaib semua sie. Jangan tersinggung ya para Capres tertjintah, di sini I mention hampir, gak semuanya lho.

Ada sie yang sepertinya cukup mendekati, tapi kok kalau gak terlalu pendiam sampai diekor sama partai, punya latar belakang militer (maaf ya saya gak percaya militer di kepemerintahan meski Eyang Kakung saat ini beristirahat di TMP Kalibata), gak terlalu terkenal punya track record gemilang, atau maaf Bang Haji, tapi sejarah dunia germerlap selebritis. Oh ya, not to mention Raja Twitter Nasional yang mempunyai masalah rumah tangga.

Jadi pemimpin itu amanah. Kita yang memilih pun juga amanah. Bukan sekedar mengurusi anggaran pendapatan dan belanja negara lho. Bukan sekedar dari panglima tertinggi negara di kala perang. Jangan lupa rakyat mesti sejahtera lahir dan bathin, tentram aman sentosa.

Bagi gue suara gue menentukan, yes menentukan. Gue ingat Pemilu yang lalu dimana gue golput, sampai sekarang pun gue menyesal. Maaf ya Pak, tapi saya lebih banyak kecewa dengan kepemimpinan Bapak. Padahal suara gue bisa menentukan lain, sekarang sudah menyesal mau apalagi? Terkena imbasnya juga kan walau dulu gue gak memilih Bapak ini.

Golput alias memilih tidak akan dihitung suara kita. Andaikan pun ada lebih dari 50% golput, gak pernah kan Pemilu dibatalkan? Memang hanya memberikan peringatan bahwa rakyat tidak mendukung pemerintahan hasil Pemilu. Kalau bisa begitu sie gue pun mau golput kok.

Tapi gue tidak mau terulang kembali sejarah yang terdahulu. Nyesel banget dech. Sekarang gue cuma bisa bilang kalau ada yang complaint tentang pemerintah saat ini gue hanya bisa menimpali: salah sendiri pilih beliau. Tapi ya suara gue habis itu hilang dibawa angin. Gak ada yang mendengar, percuma toh.

Gue salut sama teman-teman yang seumuran saat ini berani berpolitik dalam arti karena tidak puas dengan capres-capres yang tersaji, berani mendorong calon dari intelek muda. Bagi gue yang penting calon gue berakhlak dan memahami agama. Jika orang itu berakhlak dan beriman, pasti dia mengerti konsep bernegara.

By the way gue jadi ingat bahwa waktu kuliah gue pernah membaca konsep-konsep bernegara dan diplomasi Nabi Muhammad SAW, buku yang bagus untuk dibaca padahal ya saat itu (dan sampai sekarang pun) gue bukan orang yang sangat religius lho. Tapi ada hal yang gue petik dari bacaan itu adalah sebagai pemimpin kita harus dapat dipercaya, amanah, adil, berakhlak, saling menghormati dan mampu menjaga ketenangan dan kesejahteraan umatnya baik yang seagama maupun agama lainnya.

Balik ke topik golput, IMHO gak memilih tidak akan menyelesaikan permasalahan, gak berarti nanti ketika terjadi kejadian luar biasa dengan presiden kelak nanti yang berimplikasi kepada keberlangsungan negara atau perekonomian kita terus kita bisa lepas tangan. Roda pemerintah tetap harus berjalan. Tidak memilih malah membuka peluang bagi pemimpin yang tidak punya kapabilitas untuk naik. Masa kita mau kudeta? Yeah right, kudeta demo melulu nie gak selesai-selesai, kapan ekonomi Indonesia gak terpuruk lagi ya? *ingin hidup yang tenang*

Kalau belum puas, silahkan yang merasa mampu dan bisa amanah maju ke panggung di depan. Silahkan yang punya calon dimajukan, jangan diam tapi mengkritik dari jauh. Berbuat dan bertindak akan membuat negara ini mungkin lebih baik lho.

Enw Siapa yang akan gue pilih saat nanti pastinya gue punya harapan seperti yang di atas. Daripada daripada gue tidak memilih, karena menurut gue gak ada yang sempurna di mata gue, gue akan memilih calon presiden yang mendekati hasil bacaan gue di atas.

Daripada daripada yang menjadi presiden gue adalah yang punya skandal dimana-mana dech 😁, mending gue memilih yang gak terkenal saja.

Kalau ada yang bertanya kepada gue bagaimana jika si presiden tidak memimpin sesuai ajaran kepercayaan yang gue anut. Mengingat balik gue pernah tinggal di negara dimana gue pernah jadi warga minoritas, dimana pun dan siapapun tidak akan mengahalangi gue untuk melaksanakan ajaran kepercayaan gue πŸ˜‡.

Advertisements

6 thoughts on “Golput

  1. IndKur says:

    Gw masih bingung nih mo milih siapa.
    Abis katanya kayak milih kucing dalam karung.
    Namun se-gaknya kita tau ya yang di dalem karung itu kucing, bukan buaya.
    Ato kalo kita udah dalam karungnya kucing garong, masih juga dipilih. Hihihi…
    *semedi dulu deh buat pemilu buldep*

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s