Tata Krama Balas Berbalas

Alkisah nie dulu teman gue di dunia maya pernah membahas tentang balas membalas komentar di Blog (hei you know who you are, titipan mu akan ku kirim ya). Mengalirlah banyak “curhat” bahwa sebagian blogger itu suka tidak membalas komentar yang diberikan pembacanya terhadap post-nya. Memang sie gue pun suka telat membalas, apalagi deadline lagi banyak, maafin ya teman-teman, aku ndak sombong loh *keplak diri sendiri, Yas* :). Tapi karena gue pernah dalam posisi sebagai silent reader yang tiba-tiba menulis suatu komentar because I felt connected with the post. Terus gak dibalas, dan rasanya… gimana gitu ya.

Untuk memberi komentar kepada orang yang kita kenal hanya di layar komputer itu butuh effort besar lho. Bagi sebagian silent reader itu gak mudah, seperti rasanya kalau kita SMA ketemu geng pertemanan yang ngtop di sekolah, terus kita ngajak kenalan. Antara senang kalau disambut dan sedih kalau ditolak bukan?

IMHO kalau memang kita sudah mulai menulis di blog, artinya kita telah membuka diri terhadap orang lain, ya orang lain bisa memberikan komentar ataupun mengajak berteman. Gue takjub lihat teman-teman sudah yang komentar bisa berpuluh dan beratus orang tetap dibalas lhooooo, meski gak seketika atau berhari-hari. Kalau diandaikan selebritas ya, yang namanya selebritas itu gak sekedar ngtop hanya dari karyanya, tapi bagaimana ng-drive fans-nya untuk menyukai karyanya. Mungkin balas membalas komentar adalah satu tata krama yang wajib dilakukan di dunia maya bukan?

satu yang gue acungi jempol dari mereka, gue bisa menduga pastinya di dunia nyata mereka pasti punya tata krama yang jempolan dan gue akan senang sekali mempunya co-workers macam mereka. remind me that i have to learn a lot from them.

seebihnya saat ini gue berusaha menjalankan seperti blog teman gue, berupaya membalas komentar.

dan balik lagi kepada blogger yang gak ramah, semoga sie gue gak bertemu di kantor ya ya ya :).

Balik lagi ke tata krama, alkisah lagi gue pernah “dimarahin” teman gue gara-gara dia mengirim barang dan gue lupa memberitahu dia. Bukan terima kasih kok ya dia nantikan, tapi apakah barang itu sudah sampai atau belum. Terima kasih ya Nit, jadi pelajaran banget buat gue. Bisous.

Tapi memang benar kok, itu adalah tata kramanya jika kita mendapat bingkisan, meski mereka yang memberikan tidak berharap a thank you note, namun lega hati kita kalau jadi pemberi kalau ternyata barang tersebut memang menjadi barang yang berguna bagi penerima. Minimal tahu bahwa si titipan kilat itu gak menyasar ke rumah orang lain kan. Hal seperti itu sudah sama seperti jika kita memberikan balasan atas bingkisan teman tadi.

Kalau mertua gue selalu menekankan jika suatu saat kita ditelpon teman maupun kerabat, maka wajib hukumnya kita berbalas menelpon balik kepada teman maupun kerabat tersebut untuk minimal menanyakan kabar. Sama halnya Bapak Ibu gue mengajarkan untuk membalas kunjungan dari tamu yang pernah datang ke rumah kami. Memang begitu sie adat istiadat zaman dulu yang masih berguna di masa kini.

Ada satu kejadian yang bikin gue sama Mr. Y sampai saat ini tertawa geli adalah masalah tata krama balas berbalas ini dikaitkan dengan musim perayaan. Alkisah nie dahulu kala gue pernah tahun lalu menjadi tertuduh “sombong” oleh seseorang di lingkungan gue karena yang bersangkutan melihat gue mengucapkan salam hari raya ke teman lain namun tidak ke dirinya. Berangkat dari perumpamaan Mommy Sydney, bahwa tiada asap tanpa ada api, gue introspeksi diri. Mungkin karena memang gue kurang bergaul dengan dirinya, meskipun ya gue berusaha melupakan ikhwal bahwa dia tidak mengucapkan hal yang sama kepada gue lhoooo. Tahun ini gue berusaha “adil” dong, meski dari dirinya pun kemarin pun tak terucap kata-kata kepada dirinya, okay dech, i will make the first move. Apa yang gue dapatkan? Hahahahahaha *tertawa miris*, cuma sekedar keluar dari ruangannya saja gak saja lhoooooo. GUBRAK!

i didn’t expect that reaction from a so called orang ternama sie, apalagi yang suka muncul di media. Hahahahaha.

Balik lagi ke pepatah Jeung Nita, gak ada asap tanpa api, pastinya apinya bukan karena gue dong :).

Advertisements

6 thoughts on “Tata Krama Balas Berbalas

  1. danirachmat says:

    ah, merasa tertampar-tampar. Belom bales komen di postingan yang tiap hari di publish itu.
    Jeeeung, maaf saya belom sempet ketik emailnya padahal kemaren dah janji mau kirimin nomor henpun. Belom sempet pegang email euy. Kejar setoran bikin postingan ternyata sesuatu.. Huhuhu. Maafkaaaan..

  2. sheetavia says:

    tosss ahh….
    kalo gw sih karena lebih sering buka blog orang dibanding buka blog sendiri…
    jd suka gak ngeh kaloa da komen (wong yang komen juga jarang dan cuma segelintir)
    maklum silent reader

    • Mrs. Tyasye says:

      Rasanya ya kalau sudah komentar gak dibalas itu gimana gitu ya hihihihihihi. tapi gara-gara comments gue sekarang pakai aplikasi WP mobile biar gue tahu comment yg masuk, ntar dikira gue apa2x :P.

  3. d says:

    baru tadi nengok rumahnya, udah ganti aja, jadi lebih fresh mba

    iya bener banget mba, kalo kita komentar di blog orang trus dibales kayanya gimana gitu, merasa dihargai..dan kalo ga dibales berpikir oh..mungkin komenku keselip jadi ga kebaca 🙂

    • Mrs. Tyasye says:

      Haah? Rumah siapa yg lebih fresh ya, rumah gue masih bentuk semula hihihihihi.
      Benar sie kadang kita harus positif thinking, siapa tahu ya lagi gak bisa akses internet hehehe.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s