Never Say Never: Masalah HP

Kecuali ya mau seperti gue saat ini, menelan ludah sendiri (iiiish jorok habis)… Hiiiii!

Ini bukan sekedar lagu Justin Bieber semata ya (eh lagu siapa sie yang pakai judul ini?), tapi petuah Never Say Never itu memang benar adanya. Pastinya para tetua sudah memikirkan masak-masak sebelum mengeluarkan nasihat ini atau minimal pernah terjerumus seperti saya ini.

Alkisah nie, gue sangat anti iPhone. Boleh ya gue sebut merek di sini, ya mohon maaf dech, Mr. Steve Jobs, tapi gue anti banget sama iPhone karya Anda. Namun saya sangat kagum dengan Leadership yang diterapkan almarhum, yang setelah baca2x, beliau menggariskan bahwa Apple, Inc harus mengutamakan excellence untuk produknya dan jangan membuat konsumen ribet sendiri dengan aplikasi yang gak friendly digunakan.

Kalau boleh cerita nie sebenarnya gue ini ya boleh dibilang sangat mengikuti perkembangan pe-telepongenggam-an (istilah apalagi itu).  Namun apa daya ya, pas kuliah gue tergolong mahasiswa beasiswa, tambah pekerjaan pertama gaji ya cukup lah namun tak mewah. Sehingga gak bisa terus-terusan mengikuti kata hati selalu ingin gadget terkeren di masanya dong.

Pengen sie dulu punya Merek-ABC yang bentuk daun itu atau Merek-ABC kamera berwarna pertama, tapi harganya jut-jutan sie, ya gue hanya mampu beli ABC3350 dulu sebagai HP pertama yang gue beli dengan hasil tabungan selama kuliah.

Lah ketika sudah dapat gaji fulll, dan dapat uang sisa dinas, baru dech gue berani beli Merek-XYZ. Saat itu paling keren kameranya lho. Lanjut gue beli Merek-XYZ yang teranyar, belinya gak pakai mikir pula, langsung begitu pindah ke pekerjaan sekarang, masuk gaji di tanggal 25, langsung setor muka di counter Merek-XYZ di Plasa Indonesia, gue beli cash hahahaha. Horang kayah! eits beli cash bukan kaya juga, karena gak punya kartu kredit dengan plafon sebanyak itu kali.

Tapi ya balik lagi kalau mengikuti kata hati, pasti gue pengen gonta ganti HP, akhirnya mencanangkan bahwa minimal pemakaian HP gue adalah 2 tahun, jadi gak ada bolak balik ganti HP di masa itu. Lalu gue selalu bikin list apa yang gue inginkan dari HP gue sebelum membeli. Laiknya seorang fashionista beli tas branded, nah gue pun demikian. Kalau teman-teman gue rajin nunggu di depan konter G*cci atau 3Lvi, atau pakai baju branded eMDuaRibu, Z*RA atau Mangga, di saat itu, gue mah mending beli sepatu Marie Claire, baju di The Executive atau brand Matahari pun  jadi yang penting gadget paling keren dan anti mainstream.

BB pun punya hanya karena kebutuhan pekerjaan. Maklum ekskutif muda, kalau makan siang harus siap sedia siapa tahu ada bos mau nitip beliin makanan (analis sekaligus messenger).

Semenjak itu gue gak pernah beralih dari merek keluaran Merek-XYZ, I am totally fall in love with it. Kenapa? karena kameranya itu lho sudah HDR, Zoom Focus dsb nya paling paten dan selain itu juga jarang orang memakai merek tersebut. Pokoknya gue sie gak mau yang kayak orang pada umumnya gitu. Dari seri paling hip, atau yang pakai stylus pertama (berasa eksekutif muda). Ya begitu dech, pkoknya yang penting gadget keren. Selama ini sie HP gue bertahan dong minimal 3 tahunan, bahkan ada yang bertahan sampai 5 tahun.

untuk itu pun gue sempat musuhan sama iPhone, apalagi pas saat iPhone pertama keluar dan teman gue di kantor membanggakan gadgetnya itu. kan zaman iPhone pertama keluar kan belinya bisa senggol bacok gitu, seperti barang eksklusif lah dari Amreika sana. Hiiiih. Mahal kata gue, terus gak compatibel operating system-nya. Beda lah sama HP gue yg di satu sisi berfungsi seperti flashdisk, semua dokumen gue bawa dan baca di HP.

Apalagi menurut gue yang bikin gue sebal, kenapa orang-orang pemilik iPhone suka somse di Instagram gitu. eh ini mah menurut gue saja lho. Gue gembira banget ketika IG dijual dan dibuka gak hanya untuk pemilik iPhone saja. Syukurin tuch, gak eksklusif lagi hahahahahaha.

Samsung? No no no, gue gak mau mainstream cuma gara-gara Korea lagi booming di Indonesia. Setiap gue melihat Samsung berasa memegang poni a la laki-laki muda Korea di tangan hahahaha. Samsung mah cuma merek AC yang gue tahu (secara Ibu gue dulu meneliti si AC Samsung di lab-nya).

Tapi ya di luar ke-anti-an gue bukan karena kualitas cuma karena padangan sempit gue semata lho, gue akui Samsung dan iPhone memang produk yang bagus, punya pasar di masing-masing kelasnya. Beneran ke-anti-an gue sie cuma pandangan sempit gue doang hihihihi.

Gue bisa menyatakan diri sebagai Merek-XYZ Sejati dech.

Nah ternyata kecintaan Merek-XYZ gue berhenti di sini saja. Berhenti ketika HP Merek-XYZ gue mendadak restart melulu. Nyala Matik Nyala Matik. Lama-lama officially isdet setelah 6 bulan pemakaian. Whaaaat??? 6 bulan pemakaian??? paling cepat pemakaian a la gue itu adalah 2 bulan karena BB gue digondol maling alias asisten RT yg klepto di rumah kerabat .

Yang bikin sedih itu adalah pemberian Mr. Y.

Sebenarnya kecintaan gue tidak akan pudar kalau saja pelayanan aftersales-nya memuaskan. Sayangnya gue bertemu dengan aftersales yang tidak memuaskan sama sekali. Sedih sie karena untuk kepastian apakah HP gue bisa diperbaiki harus menunggu 3 hari kerja (yang menjadi 5 hari kalender karena terpotong Tahun Baru itupun jawabannya baru didapat karena gue sudah mulai mengancam mau lapor YLKI), dan tadi siang baru dipastikan bahwa HP gue akan diperbaiki dengan minimal memakan waktu 1 Bulan. DOEEEEENG!

Gue memang membandingkan dengan aftersales dari Apple, karena sebulan setelah gue beli iPad, gadget gue itu ng hang, datang gue ke Menteng lalu dalam waktu 2 hari, gue dapat iPad pengganti. Gak pakai babibu. Yang membuat gue nyaman adalah cara staff mereka menjelaskan tanpa memojokkan kita. Mereka pun minta maaf karena saat itu ada kegagalan produksi produk. Minta maaf cuy. Pas gue balik ke Senayan City buat beli Samsung S3 titipan Ibu gue pun, gue sempat menanyakan aftersales-nya. Menurut gue sie penjelasannya lebih memuaskan.

Bagi gue bukan masalah apakah HP itu bisa diperbaiki atau gak, hanya kejelasan informasi saja yang gue inginkan. Masa perlu 3 hari untuk tahu apakah harus diperbaiki di tempat itu atau dikirim ke pusat reparasi, hanya karena teknisinya gak kerja? Sebagai pekerja dari lembaga yang mengagungkan Service Excellence untuk stakeholders kami, ini yang buat gue kecewa. Apalagi beredar di forum itu terjadi di segala lini produk yg mereka produksi, termasuk produk termahal mereka pun mendapat perlakuan sama.

Sampai sekarang perusahaan XYZ itu belum menjawab email pertanyaan gue. FYI ya berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik kalau gak salah (nanti gue gugel dulu), lembaga publik kayak kantor gue itu diwajibkan menjawab pertanyaan stakeholders maksimal 7 hari kalender setelah diterima.

Jumat kemarin akhirnya gue pun beralih merek, kebetulan karena ke Senayan City pun ada titipan dari Ibu gue.

Pengen rasanya gue ke Service Centernya sambil menyodorkan ke mbak-mas penjaga Service Center-nya si HP XYZ bungkus merek lainnya sambil bilang: noooooh, gue sudah ganti merek…

Tapi nanti gue dikira agak miring, kan malu-maluin kan hihihihihihi.

Jadi jangan pernah mengatakan never ya, karena suatu saat hukum karma itu bisa berlaku.

Advertisements

5 thoughts on “Never Say Never: Masalah HP

  1. danirachmat says:

    Hueeee. memahami itu ada batasan waktu maksimal untuk menjawab keluhan nasabah. Kalo lewat dari itu bukannya dari customer yang sibuk nanya, dari tim follow up service kantor pusat yang neleponin kitah. Sungguh sangat disayangkan ya Yas. Semoga jodoh sama handphone merek barunya ya… 🙂

    • Mrs. Tyasye says:

      iya Dan, Dept Humas gue malah sibuk ngejar-ngejar gue buat jawab malahan, apalagi bank-bank kan suka cerewet (uuuups hihihihi), bisa menelpon bagai minum obat sehari 3 kali. Iya nie semoga gue jodoh sama si merek Baru 🙂

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s