Cita-Cita Buat Anak-Anak

Dulu gue sering bercanda ingin memasukkan anak-anak dalam kontes-kontes atau pemilihan fotomodel cilik, atau kalau ada audisi sinetron atau iklan, tolong beritahu gue.

Semoga anak gue jadi artis, minimal bintang iklan. Gue capek kerja, biar mereka jadi artisnya dan gue jadi stage-mom saja.”

Memangnya jadi stage mom (mom manajer seperti Kris Jenner -nya the Kadarshian Sisters) gak capek ya yas? *toyor kepala sendiri*

Sampai sekarang tidak kesampaian (karena memang tidak diniatkan dan gak diusahakan sie), anak-anak gue gak ada yang ikutan audisi atau pemilihan apapun, kecuali ya Parenting Model Hunt yang dulu itu, untuk lucu-lucuan.

Kalau ditanya cita-cita buat anak-anak, jawabannya kami berdua cuma satu eh dua ding: menjadi orang berguna dan sholehah.

Masalahnya bukan suatu perkara yang mudah untuk membentuk anak menjadi orang yang berguna (sama sie mendidik anak jadi sholeh juga susah).

Angka pengangguran kok sepertinya gak turun-turun ya, lapangan kerja semakin sempit (jangan salah ke depan bisa jadi peran manusia digantikan oleh mesin), belum lagi persaingan juga ketat. Ekonomi makro apa kabarnya, dunia sepertinya belum bisa move on dari krisis.

Setelah dipikir-pikir dan ditimbang-timbang dari pengalaman kami berdua, kami merasa bahwa mau tidak mau agar bisa bertahan di dunia kerja adalah keterampilan di luar mata pelajaran yang kami dapat di bangku sekolahan yang menjadikan nilai plus-plus di dunia nyata (termasuk dunia bekerja).

Kalau nanti anak-anak mengeluh kenapa harus masuk sekolah seperti ini-itu, les ini-itu, dipaksa berbahasa Indonesia yang baik sekaligus belajar Bahasa Inggris yang benar, kenapa kalau lagi bosan harus diseret-seret ke tempat les ballet atau piano, semoga anak-anak bisa membaca tulisan ini:

Dear Zia dan Syifa,

Jika suatu saat kalian mengeluh mengapa Ibu dan Ayah harus menyeret kalian ke tempat latihan ballet atau piano, atau memaksa kalian berbahasa Inggris selain harus bertutur kata dalam bahasa Indonesia yang sesuai EYD atau les komputer, atau sekolah di tempat yang sangat kompetitif maka ingatlah ini, selama Ayah dan Ibu diberikan kemampuan lebih dari Yang Di Atas, kami akan selau memberikan keterampilan untuk masa depan kalian.

Bagi kami berdua, kalian adalah anak-anak yang super genius, gak perlu pakai test IQ, kami sudah tahu itu.

Tapi dunia itu sudah punya banyak anak-anak yang super genius, maka kalian perlu bertahan untuk hidup.

Kami tidak berharap kalian jadi mahasiswa di Julliard School atau the Royal Ballet Academy. Syukurlah kalau itu memang cita-cita kalian dan kalian dapat mencapainya.

Yang terpenting kalian harus ingat bahwa hidup itu tidak hanya di bangku sekolahan atau di dunia perkantoran seperti Ayah dan Ibu. dan hidup itu juga tidak hanya sekedar di arena bermain.
Kalian harus bisa menyeimbangkan otak kanan kalian dan otak kiri kalian. Kalian harus pandai bersosialisasi sekaligus berpikir dengan taktis dan menggunakan logika.
Jangan lupa dalam menempuh karier kelak, yang akan membawa kalian ke puncak karir ada 3 hal utama: doa, pintar dan budi pekerti. Semua harus seimbang ya.

Ayah dan Ibu cuma berdoa semoga kalian menjadi orang yang berguna, menjadi berkah bagi lingkungan kalian.
Dan ingat juga, orang meninggal tidak akan membawa harta apapun, jadi jangan pongah, jangan pelit apalagi sombong. Yang akan mengantar kita adalah keluarga dan sahabat kita.

Dan doa dari.orang tua.

Advertisements

8 thoughts on “Cita-Cita Buat Anak-Anak

  1. sondangrp says:

    gak tau apa kebetulan aja malem ini bacanya yang bikin terharu semua (eh ini yg ketiga deh ). Dikau waktu itu baca Tiger Mom juga gak? aku soalnya suka, ihihi tapi temen gak suka *nyari temen , kau Ndang?*
    Aku juga berharap banget everything we do out of love dan dengan guidance knowledge (yang setau kita ya semoga makin banyak belajar nih efeknya kan ke anak yak) hasilnya yang terbaik buat anak-anak.

    • Mrs. Tyasye says:

      Aku suka Kak, boleh ya memanggilnya dg Kak Sondang. Baru sebagian bacanya gara2x jadi panitia seminarnya di kantor, baca di Time, dan sebenarnya kena banget. Aku percaya anak-anak perlu banget orang tua yang bisa kasih arahan, mendorong ketika dia mundur, mengkoreksi agar lebih baik, sekaligus yg memeluk ketika dia butuh dipeluk. Aku sama suami suka dibilang terlalu keras, tapi kok sayang rasanya ada kesempatan tapi gak dirasakan anak-anak, mumpung masih mampu Badan ini dikuras tenaganya :).

      • sondangrp says:

        iya hahaha cocokan dipanggil kak lah daripada mbak sondang. Tyas (itu ya panggilanmu) aku suka banget kalimat si Amy yang bilang something like ” No I don’t want you to be like me. I want to prepare you for the future,” ini jleb banget dan bikin aku pas baca mau teriak “iya, iyaaaaa iyaaaaaa!!”

      • Mrs. Tyasye says:

        Setuju banget… Amy sebenarnya replika Bapak Ibu aku, ortu Amy pun demikian sepertinya. Aku pernah nangis darah masuk sekolah yang disiplinnya tingkat tinggi, bersaing dengan teman-teman dari kebetulan (bukan SARA ya) tapi secara etnis mereka terkenal pekerja keras, jadi mau gak mau aku ikut ritme teman-temanku. Tapi Bapak ku bilang: gak apa2x lulusan sekolah kamu meski hanya ranking 42 pun bisa lulus bisa masuk PTN favorit.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s