Sekelumit Kisah Tentang Cinta Tanah Air

Di acara business trip di Banque de France kemarin, kebetulan pesertanya bukan hanya dari Indonesia, tapi dari bank sentral negara lainnya. Kebanyakan adalah negara-negara dari dunia ketiga, benar gak sie istilahnya, maksudnya dari negara yang baru mulai membangun setelah lama terlibat perang saudara atau di bawah penjajahan negara adidaya atau di bawah kekuasaan diktator. Eh point ketiga berarti Indonesia bisa dikategorikan sebagai bagian mereka dong #no mention #lupakan :P.

Pesertanya adalah bagian Legal Departement atau lulusan Law Faculty yang bekerja di bank sentral di Ghana, Gambia, Aljazair, Armenia, Kazakhstan (kalau yang ini cantik cantik), Rumania. Senegal dan kawan kawan. Dari Asia diwakili oleh teman dari Korea Selatan dan Filipina (yang notabene sudah sama majunya dengan Indonesia).

Salah satu peserta adalah Miss Mouna yang berasal dari Djibouti. Mouna ini cantik hitam manis, kalau sekilas mirip dengan Tyra Banks habis. Cantik kan.

Mouna ini dulu mendapatkan beasiswa untuk sekolah hukum di Perancis. Lalu setelah lulus, dia bekerja di salah satu firma hukum di Paris. Nah menurut cerita dia, ketika menunggu ujian untuk dapat beracara di peradilan (di AS dikenal.sebagai BAR Exam), tiba-tiba dia terpikir untuk pulang ke Djibouti untuk bekerja di sana. Lagipula orang tuanya masih tinggal di sana sie.

Kami langsung bertanya kenapa?

There are many of young people at Djibouti dream and come to France to work here, but I choose to work for my country

Jleb.

Mengingat ya Djibouti masih suka ada perang saudara, kalau gue akan memilih kabur dari sana bukan. Dan jadi supermodel.

But she didn’t.

Akhirnya sie kami mendoakan dia agar cita-cita dia menjadi legal department head dari bank sentralnya tercapai, mengingat jumlah pegawai di sana hanya sekitar 30 orang. Kalau di Indonesia ada 6.000 orang, ya susah ya berharap gue bisa seperti dia dalam waktu dekat hahahaha.

Cerita lain adalah gue ketemu WNI yang sudah 15 tahun hidup di luar negeri dan terutama di Perancis. Kakak ini heboh sekali bertanya tentang calon presiden Kita untuk Pemilu 2014 besok. Mulai dong delegasi Indonesia menjabarkan satu per satu capres kita dari yang Capres Mertua Artis, Capres Ksatria Bergitar, Capres So Called Pahlawan Perang, Capres dari Kota ke Kota, Capres Panglima Zaman Reformasi, Capres TOEFL dan sebagainya. Btw jangan tersinggung ya dengan sebutan di atas, ini bukan blog politik kok hihihihi, and I don’t mean to judge any of them kok *belum menentukan pilihan, masih melihat peta politik*.

Kakak ini heboh bertanya masing-masing calon karena tahun depan pun dia wajib memilih dan dia gak punya gambaran tentang capres di atas. Ya, dia sadar bahwa suara dia akan menentukan nasib tanah air dia. Dan dia mau yakin bahwa pilihannya akan menjadi pilihan terbaik.

Angkat jempol bagi teman-teman yang bekerja di luar negeri jauh dari Indonesia tapi masih memikirkan nasib Indonesia.

For your information para TKI Kita itu di beberapa wilayah di Indonesia adalah penyumbang perekonomian di daerah asal, katanya sampai bisa membantu APBD daerah masing-masing melalui pengiriman uang (remittance).

Sayang, beda cerita dari WNI lainnya yang gue temukan di sana. Selain si X ini dengan temannya yang punya jasa tour guide, dengan gaya memaksa menyodorkan ke gue jasa penyediaan wanita dari segala bangsa jika ada bos gue yang mau (apa maksudnya?!? Untung gue sendirian gak sama rombongan), selain itu menawarkan jasa tour mereka dengan cara memojokkan dan memaksa sampai gue berharap bisa kabur. Model kalau kita sampai di Soetta tiba-tiba dikepung jasa rental mobil gelap, ngerti kan.

Man, situ bilang sudah tinggal di negara maju lebih dari setengah hidup lo, tapi pikirannya masih lebih udik daripada zaman sebelum reformasi. Apalagi cara bisnis memaksa itu lho. Sayang ya cara berpikirnya masih zaman orde baru, di Indonesia anak mudanya sudah 1 juta step ahead lho :).

Bagi gue dimana pun bumi Kita pijak, tidak akan mengurangi rasa nasionalisme kita semua. Bekerja dan hidup di luar negeri tidak menjadikan kita pengkhianat bangsa kok, sama juga kerja sebagai aparatur negara juga tidak membuat nasionalisme kita lebih dari yang bekerja di sektor swasta.

Yang terpenting adalah sikap kita yang tidak membuat Indonesia ini malu, jangan sampai bangsa kita dicap suka korupsi, suka bisnis nepotisme, atau sampah di negara sendiri atau negara orang lain.

Ketika gue masih sekolah di Perancis, Bapak selalu mendorong agar gue berprestasi di sekolah, apalagi gue sekolah di sekolah umum yang tahunya Indonesia negara miskin nun jauh di sana.

Pesannya cuma satu: ayo kita buktikan kalau orang Indonesia bukan orang yang udik dan bodoh ya.

Alhamdulillah, teman-teman gue gak pernah sangsi kalau orang Asia adalah yang pintar, karena juara satu di sekolah gue adalah orang Kamboja dan Indonesia hihihihihi… *minta dikeplak*. Dan kalau kami berkumpul di kedutaan, teman-teman gue seusia pun ternyata berprestasi di sekolah masing-masing kok.

Ternyata mudah kan untuk cinta tanah air, gak usah pakai opspek (apa ospek) yang harus memakan jiwa, cuma melalui satu cara: jangan bikin malu bangsa kok :).

Posted from WordPress for Android

Advertisements

4 thoughts on “Sekelumit Kisah Tentang Cinta Tanah Air

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s