Paris 2013: Shuttle Bus dari Airport CDG dan (Hampir) Kecopetan

Jauh-jauh sampai Paris malah (hampir) kecopetan. Di hari pertama pula.

s*gh.

Ya begini dech, awal baru mendarat di Kota Paris, malah gue hampir kecopetan. Bikin traumatis sekali karena kebetulan dalam biztrip (business trip) kali ini gue berangkat lebih dulu daripada rekan kerja gue yang lain.

Ceritanya ingin menjajal kota sendirian sambil menyeulusuri setiap Pusat Perbelanjaan untuk menghabisi list titipan orang-orang. Langsung dech bikin traumatis habis, padahal gue kan harus naik Metro kemana-mana. Sebenarnya gue sudah diwanti-wanti katanya Paris termasuk kota banyak turis dan banyak copet. Apalagi dengan terbukanya perbatasan Uni eropa, yang maaf-maaf ya bukan bermaksud kesukuan, tapi banyak pendatang dari negara Uni Eropa yang kurang bagus secara ekonomi


Kejadiannya memang salah satunya gara-gara gue sie, muka baru mendarat di Charles-de-Gaulle pukul 07.00 pagi setempat (WPP alias waktu Perancis bagian Paris krik-krik-krik), karena katanya harga taksi dari Charles-de-Gaulle ke tengah kota Paris adalah kurang lebih 40 Euro (ya ya ya saya pelit dan Rupiah lagi lemah tanding Euro alias Rp16.000), maka diputuskan gue naik Shuttle Bus sampai ke kota, karena letaknya memang agak jauh dari Paris.

Naik Public Transport dari Charles-de-Gaulle ke Paris (Vis Versa)

Bagi traveler (uhuk, traveler?!?) semacam gue, alias memang sangat mengirit, mari kita lupakan yang namanya pakai taksi. Jadi ingat waktu terakhir ke Tokyo, argo taksi selalu dimulai di angka YEN 700, alias Rp70.000,- (benar kan hitungnya? kurang lebih ya kursnya), nah gue diajarin sama Mr. Y untuk menggunakan fasilitas public transport.

Memang taksi bukan public transport, yas? Ya iya sie, cuma dalam artian lebih murah ya.

Anyway, karena kurs Rupiah sangat terbanting-banting oleh menguatnya Euro, maka gue memang harus memilih yang lebih murah.

Baca-baca review pelancong sie katanya naik taksi akan habis 40 Euro, dan memang terbukti sie, pas gue mau pulang ke Jakarta karena pesawat jam 11.00 pagi dan gue takut antri di konter Detaxe alias Tax Refund (yang ini akan diceritakan nanti ya detailnya) yang katanya mengular di musim turis, maka datanglah pagi-pagi.

ada beberapa alternatif yang ditawarkan yaitu sebagai berikut (lengkapnya bisa dibaca di link ini):

1. Rail Network

Dari CDG bisa kita menggunakan transportasi umum kereta. Seperti yang ada di Jepang, dari Narita kita bisa naik kereta dengan kecepatan tinggi atau naik kereta dalam kota biasa. Di sini dikenal dengan SNCF, Thalys dan TGV (atau Train à Grande Vitesse, high-speed train di Perancis, yang sama kencangnya dengan Shinkansen-nya Jepang) atau naik RER Paris (line B) yang menghubungkan 5 express train lines dari pusat kota ke daerah sekitar luar kota (suburbs).

Cara penggunaannya mudah kok, cuma gak semua stasiun di Perancis ramah koper berat (koper sie ramah, tapi bukan koper berat penuh barang ya 30 kg hihihihi), yang penting kita tahu peta railways di sana.

Oh ya, kalau menurut gue peta transport railways di Paris agak lebih ribet daripada di Tokyo, karena kalau Tokyo sie IMHO ya hanya muter-muter sedikit, gak akan hilang-hilang atau tersesat ya, tapi kalau di Paris bagai jaring laba-laba, jadi sebelum naik pastikan mau naik dimana turun dimana dan interkoneksi dimana, plus pastikan Zona-nya apakah Zona 1-3 atau di Zona 4-5 karena harganya beda dan jenis operatornya kadang berbeda ya.

Di link di atas sebelumnya, atau silahkan gugling di web-nya CDG, mereka sudah menjelaskan bagaimana mencari stasiun kereta yang akan kita pilih dari ketiga Terminal yang ada di airport tersebut.

atau silahkan klik di sini ya.

2. Bus dan Coach

Nah gue memilih naik Shuttle Bus karena hotel malam pertama dan kedua gue berada di daerah Rue Lafayette (ya ya ya, you might guess the location is near to ahem ahem ahem… shopping(dot)com).

Gue memilih naik Roissy Bus Shuttle, karena Bus Stop-nya tepat di Terminal 1 gue mendarat dan berhenti di dalam kota di Rue de Scribbe yang berdasarkan Google Maps cuma 500 meter dari hotel gue. Apalagi gue cuma mengeluarkan 10 Euro saja kakak.

Anyway, yang penting kita sudah tahu harus jalan menuju kemana setelah mengambil bagasi dan berbasa-basi dengan pihak imigrasi. Tempatnya sie bukan dalam terminal tapi di luar sedikit kok, dan semua petunjuk arah lumayan jelas. Ingat Exit di sini diganti kata SORTIE ya.

Karcisnya bisa beli kepada kondektur sie, cuma daripada gue beribet dengan bahasa yang masih kaku, gue beli di Vending Machine dalam Bus Stop di Bandara.

Tenang kakak, ticket vending machine nya ada pilihan bahasanya kok, yang penting sedia Euro yang cukup.

Lama perjalanan kurleb 40 menit sampai 60 menit tergantung kepadatan jalan, kalau pagi subuh kayak pas pulang hanya makan 30 menit saja kok.

Nah sampai di kota tinggal lanjut mau kemana, karena dekat Rue de Scribbe, ada Metro terdekat yaitu Chaussée d’Antin (di baca sose dangtang). Tinggal dipelajari saja petanya.

Yang harus disiapkan adalah mental untuk memnggotong koper sendirinya itu. Sebenarnya disediakan di setiap bus tempat menaruh bagasi kita, yang gak disebutkan cara menaruh bagasinya. Ternyata modelnya koper ditidurin di semacam lemari besi gitu, yang hitungannya berat bo mengangkat koper 15 kg ke atas. Kangen gue sama porter di Soetta yang sering gue tolak-tolak ketika menawarkan jasanya. Habis itu tinggal termenung manis dech di bis sambil melihat gelapnya perjalanan.

Oh ya sebagai informasi nie, di sana informasi jelas banget, gak seperti waktu kecil susah banget menemukan orang Perancis berbahasa Inggris, sekarang lumayan banyak kok. Dan untuk kedatangan Bus-nya setiap Bus Stop ada jam yang menunjukkan berapa menit lagi Bis pertama dan Bis kedua akan datang.

Selain kedua transportasi di atas masih banyak cara mengakses dari dan ke CDG kok, semuanya ada di sini lengkap dengan jam dan arah terminalnya http://www.aeroportsdeparis.fr/ADP/en-GB/Passagers/Access-maps-car-parks/Paris-CDG/access/public-transport/

(Hampir) Kecopetan di Paris

Balik ke cerita copet, alkisah tiba-tiba meski gue sudah mendaftarkan XL gue untuk ke luar negeri lalu sudah memilih Orange sebagai pilihan (oh ya operator Orange ini di pakai dimana-mana, sampai gue dapat akses wifi Orange  gratisan di lokasi seminar di Banque de France, jadi signal lancar jaya buat gugling maupun google maps), tapi karena gue belum (dengan bodohnya) mengubah paket dari XL Broadband menjadi XL GPRS (haloooo operator XL kalian kok infonya gak tuntas sie), selama 2 hari gue kesulitan bergoogle-ria. Untung pas di Jakarta gue sudah mencetak hasil Google Maps ke kertas, sambil mengubek tas gue menemukan lah si kertas peta itu.

Nah pas gue sudah alhamdulillah menutup tas, taruh HP di kantong mantel sebelah kanan, gue dihampiri oleh 2 orang remaja, bukan Perancis sie, tahu dari mukanya sie pendatang.

Mereka meminta-minta uang untuk makan, dalam pengertian gue dijebak gak bergerak, dan tiba-tiba salah satu dari mereka masukkin tangan ke kantong kiri gue. Sebagai ahli dalam naik kereta rel listrik sejak 1997, ente pikir gue gak tahu gerakan copet apa yaaaaa #$%^#$%&*&^%^.

Langsung dong gue teriak: Non, Non, Non, Je vais appeler la police!!!!

Karena pun sampai sana jam 8 dan jalanan agak sepi-sepi orang buru-buru ke kantor, mereka pun takut juga dengar teriakan gue.

Untung ya, masih beruntung HP gue masih ada, karena satu-satunya alat komunikasi gue ke rumah dan ke mbah Google (BB 1nd0s4t gue selama di sana sudah wasalam bobo dulu ya hahahaha).

Sejak itu gue TRAUMA, kaget karena bukan Paris yang gue kenal. Jadi selama gak ada teman-teman gue yang baru datang hari minggu-nya, gak ada foto-foto sama sekali ya hahahahaha.

Anyway, dari diskusi dengan kak Ine yang sudah lama tinggal di sana, *yang ternyata gue baru tahu pas pulang beliau adalah anak dari sobat Bapak gue di IPB, ya ampun dunia itu kecil ya*, dan orang-orang Perancis aseli sejak perbatasan Uni Eropa akan dibuka, banyak pendatang luar Perancis masuk ke sini, yang berasal dari negara ekonomi kurang. Sebut saja maaf adalah orang Gypsy dari R0m4ni4 (gue samarkan ya supaya gak tersinggung), mereka terkenal sebagai pengelana dan peramal namun sayangnya juga ada yang jadi copet kecil-kecilan. Lupakan dech romantisme a la Gypsy King (tahu kan pemain gitar terkenal itu), karena hukum Perancis menyebutkan di bahwa 16 atau 18 tahun masih tergolong anak-anak dan untuk hukuman bagi pencopet belum dewasa hanya dikurung sehari dan dilepas.

Sayang ya…

ohya tambah lagi keadaan ekonomi yang gak menentu, dan katanya pertumbuhan ekonomi di sana hanya 0,2%, jadi terbayang kan perekonomian dunia seperti apa.

Sejak itu gue gak helpful saja, ada turis mendekat saja mau nanya alamat gue langsung kabur hahahaha.

Selain itu ada beberapa spot turis yang jadi inceran copet yaitu di La Tour Eiffel, di Champs-Élysées dan di Galeries de lafayette pun ada katanya. Ada turis Malaysia yang cerita kepada Bos gue yaitu Pak BS katanya istri Malaysian itu habis dibaret tasnya dan kehilangan 1.000 Euro. Dahulu pun ada teman kantor yang kehilangan di Paris.

Pokoknya hati-hati saja, semoga sie ke depannya pemerintah sana lebih memperhatikan hal-hal tersebut ya.

Okeh selanjutnya gue akan inshaallah menulis tentang jalan-jalannya, hotel yang datangi, serta cara melakukan Tax Refund dan bagaimana pengantrian Tax refund agar kita gak kena penalti gara-gara lupa mengecap di Bea Cukai  Perancis dan mengirimkan form-nya, lumayan kan 12% gitu kakak… Coba bayangkan harga 3lv1 Suk43s1h yang Sp33dy 30 adalah 600 Euro dipotong tax refund 12%, berapa anak-anak? *a la ibu guru*. Pantas ketemu banyak orang Indonesia, Taiwan, China Mainland, HK, Singaporean, Malaysia dimana-mana… orang Asia kaya-kaya yaaaaaa :D.

nanti ya dikisah selanjutnya…

Advertisements

2 thoughts on “Paris 2013: Shuttle Bus dari Airport CDG dan (Hampir) Kecopetan

    • Mrs. Tyasye says:

      Hai, gue menginap di Excelsior Lafayette, dapat dari Agoda, letaknya gak jauh dari Galeries Lafayette. Kalau di bus-nya itu ada semacam lemari terbuka, buat menaruh koper penumpang modelnya koper mesti dalam posisi horizontal atau tidur jadi mau gak mau kalau bis penuh dapatnya paling atas mesti angkat koper seperti menaruh bagasi ke dalam kabin gitu.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s