Kehadiranmu Kami Nantikan di Rumah, Nak

Dalam tulisan ini gue tidak akan sesumbar bahwa gue sangat memperhatikan orang tua gue. Sungguh, menelpon ke Bogor saja, rumah orang tua gue, semenjak gue sudah pindah dari Rumah Padi bisa dihitung jari. I know that I miss them, and they miss me, but we barely say with words. Pantang mellow gitu hihihihi. But I hate when they are in troubles or not in good health they tend not to inform me. Tahu sie Pak Bu, kalian gak mau gue gundah gulana karena menurut kalian gue sudah repot mengurus Dua Koalas dengan suami yang on and off dinas melulu luar pulau, tapi kan gue gak suka menjadi terakhir yang tahu dong dong dong…

Bapak dan Ibu gue kebetulan tidak meminta gue sang anak tunggal untuk tinggal bersama mereka untuk mengurus mereka. Mereka meminta supaya gue cepat mandiri di rumah sendiri. Syukur Alhamdulillah mereka masih dalam kondisi sehat wal afiat untuk ukuran seumuran mereka ya, Ibu masih aktif mengajar sebagai dosen, Bapak masih aktif di masjid dan perkumpulan lansia dokter hewan. Bahkan dahulu Bapak dan ibu gue sempat tercetus untuk hidup di panti jompo karena menurut mereka ya akan lebih enak bisa beraktivitas dengan sesama angkatan mereka. Kalau Bapak Mertua Alm, dan Ibu Mertua kebetulan kan tinggal di daerah Jakarta Selatan jadi masih bisa juga sering dikunjungin seperti ke Bapak ibu gue. Berusaha adil dan merata sie jadwal kunjungannya.

Gue dan Mr. Y punya jadwal kesepakatan bulanan yaitu minimal harus berkunjung ke Rumah Mampang, Rumah Bogor, semua dilakukan di sela-sela jadwal padat weekend kami (ceile, padat ya neng). Tapi memang kan susah membuat jadwal di antara les-les Balet Lil’Miss Koalas, atau acara ulang tahun di hari weekend, atau jadwal dinas kami berdua yang gak pandang bulu berlangsung di saat weekend pula. Begini saja sudah mengundang protes dari orang tua kami, meskipun mereka sangat pengertian tahu bahwa kami orang tua bekerja di perusahaan yang menjurus kapitalisme hihihihihi.

Contohnya sebagai berikut ini:

Kejadian I: Anak Laki-Laki Ketiga menerima sms dari ibunda tersayang, beberapa minggu setelah pulang dari tugasnya di hutan belantara Kalimantan.

Mertua                 :  Yuga, apa kabar anak-anak dan keluarga?

Mr. Y                     : Baik Bu, semua alhamdulilah sehat-sehat. Ibu bagaimana kabarnya?

Mertua                 : Alhamdulillah Ibu sehat. Terima kasih masih menanyakan kabar Ibu. *nada datar*

Mr. Y                     : JLEB.

Kejadian II: Anak Perempuan Satu-satunya sedang menikmati liburan di rumah orangtuanya, tiba-tiba mencetuskan ide briliannya.

Mrs. T                   : Pak, anaknya Pak Sholeh kan bisa bikin dapur kecil kan dari kayu?

Bapak Raden      : Bisa saja kalau dikasih ukurannya dan gambarnya. Buat apa Yas?

Mrs. T                   : Buat bikin mainan dapur-dapuran buat anak-anak disimpan di Bogor.

Bapak Raden      : Halah kalian kesini terakhir sebulan sekali saja jarang, yang ada nanti Zia dan Syifa keburu SMP baru bisa

main di sini.

Mrs. T                   : JLEB.

Ya Tuhan, ampunilah saya dan suami saya, sembah sujud kami buat orang tua kami minta ampun karena kami lalai memperhatikan orang tua kami.

Jika di luar negeri kita melihat lansia hidup sendiri, dan jika ada anaknya yang merawat mereka adalah suatu yang istimewa, beda dengan di Indonesia, merawat orang tua adalah kewajiban anak-anaknya jika sudah dewasa. Rata-rata teman-teman gue punya jadwal berkunjung ke rumah bila tinggal berjauhan, atau jadwal menelpon atau tinggal bersama orang tua mereka. Bahkan ada teman gue rela tinggal di rumah mertuanya karena menurut teman gue yang cowok ini, siapa lagi yang akan mengurus mertuanya.

Namun ada suatu cerita yang membuat kami berdua tersadar, dan kemudian berdoa dalam hati, semoga orang tua kami dan kami ketika lanjut usia tidak mengalami hal yang sama. Weekend kemarin, setelah dititahkan oleh Mertua gue, kami berangkatlah berkunjung ke kenalan keluarga kami berdua. Bagi Mertua gue adalah penting menjalin tali silahturahmi dan salah satunya dengan mengunjungi orang-orang sepuh yang kami kenal. Apalagi baru mendapat kabar bahwa orang tua tersebut sedang mengalami musibah sakit (ini salah satu ajaran Mertua yang akan gue wariskan ke anak cucu gue pastinyaJ).

Long short story, sampailah kami dengan rombongan Dua Koalas (tanpa Duo Teteh karena Duo Teteh sedang pelesiran ke Tasik). Ketuk rumah tersebut ternyata hanya ada Ibu dan Bapak Sepuh dimaksud, dengan pembantu yang pulang pergi. Ibu Sepuh itu berapa minggu lalu terkena patah pergelangan kaki dengan tertatih-tatih pakai tongkat menyambut kami sedangkan Bapak Sepuh yang kemudian kami ketahui sedang sakit di bagian organ perut agak susah bangun dari ranjang karena lemas badan.

Kami bertanya kemana anak-anaknya dan cucu-cucunya yang kebetulan beberapa tinggal bersama mereka. Saat kami berkunjung, anak cucu tersebut sedang ada keperluan ke luar rumah semuanya, dan anak cucu mantu mereka yang tidak serumah dengan mereka berjanji akan datang. Setelah bercerita tentang penyakit mereka, bahwa mereka selalu sendirian di rumah,anak mereka semua sibuk bekerja di hari Sabtu juga (dengar cerita sampai ketika Bapak Sepuh dan Ibu Sepuh dirawat di Rumah Sakit anak mereka tidak bisa menemani). Lalu Bapak Sepuh melontarkan pernyataan seperti ini:

“Mana sie Bunga (nama samaran), katanya janjinya mau ke sini, tapi gak pernah ke sini. Sudah kasih harapan mau ke sini katanya hari ini tapi kok gak sampai-sampai.”

*speechless*

Harapan.

Ya, ternyata itu harapan seorang Bapak kepada anaknya.

Harapan Bapak itu bukan sekedar anak cucu sehat walafiat, anak cucu sukses dalam berkarir, anak mantu rukun bahagia.

Tapi lebih dari itu, sebuah harapan yang sederhana.

Harapan Bapak itu adalah dikunjungi oleh anak cucu dan mantunya di hari minggu itu.

Bukan harapan yang besar bagi kita anak muda yang punya mimpi besar. Hanya harapan yang sederhana yang dinantikan Bapak itu.

Tapi itulah harapan seorang orang tua kepada anaknya. Harapan bahwa anaknya akan mengingat dirinya. Harapan bahwa anaknya akan berkunjung membawa cucu-cucunya. Harapan anaknya akan menemaninya tidur di rumah sakit ketika beliau sakit.

Mungkin sudah tidak terbendung, gue memperhatikan Mr. Y menitikkan air mata. Mungkin dia ingat Almarhum Bapak Mertua yang baru meninggal 29 Januari 2013 yang lalu.

Ternyata harapan orang tua adalah itu lho. Sederhana tapi membahagiakan mereka.

Makanya banyak orang berlomba mudik ke kampung di hari raya, menempuh jalanan yang macet tak berperikemanusiaan hanya memenuhi harapan orang tua mereka, berkunjung di hari raya. Yang dulu gue anggap aneh, karena gue gak pernah mudik dengan macet, sekarang gue pahami. Yang dulu gue anggap remeh harus bertandang ke rumah sanak saudara atau eyang, sekarang baru gue resapi maknanya.

Sederhana ya, tapi membawa kebahagiaan yang membuncah.

Ternyata membahagiakan orang tua adalah sangat sederhana.

Semoga hari itu Bapak Sepuh itu akhirnya bisa ketemu anak bungsunya dan cucu-cucunya yang dinantinya hari itu. Amien.

Advertisements

2 thoughts on “Kehadiranmu Kami Nantikan di Rumah, Nak

  1. sondangrp says:

    aku selalu mellow baca tulisan mengenai orang tua. Kadang pas mau pulkam aja suka pake mikirin harga tiket segala, hiks. Pdahal di saat saat begini ya emang hiburannya ya anak dan cucunya ya. Dan setelah jadi orang tua, smakin sadar soal hal ini. Kalo pake kata kata neng Jihan itu, let us strive the moment gitu ya, mumpung mereka masih di dunia.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s