Ikhlas

Ada suatu fenomena yang berlangsung dalam masyarakat, dari kecil sampai sekarang menjadi pertanyaan besar bagi diri gue pribadi dan sampai sekarang gue masih belum puas jawabannya. Apakah ketika memberikan atau melakukan sesuatu kepada orang lain harus berdampak timbal balik?

Bagaimana caranya supaya kita bisa ikhlas melakukan hal tersebut?

Jujur saja, gue belum sampai ke tahap itu. Sepanjang hidup gue, ada beberapa fase dalam kehidupan gue pribadi yang diwarnai dengan kekecewaan. Misalnya cerita karir dalam kantor yang sempat berjalan di tempat padahal kurang berdedikasi apa gue dengan bos gue yang dulu, tetap gue tidak mendapatkan promosi di divisi yang dia pimpin. Kecewa? Sangat.

Kecewa itu hampir menuju malas bekerja, sampai pada suatu di saat yang sama gue sadar, kalau gue kecewa dengan cara seperti itu hanya merusak nama baik gue dong. Harusnya gue bekerja karena gue menyukainya dan memang itu pekerjaan gue tanpa berharap kepada orang lain. Untung ya gue sadar, jangan sampai amit-amit gue menjadi pegawai sekedar absen dan baca koran.

Gue menyadari di masa itu ternyata gue gak murni ikhlas bekerja, ada unsur pamrih ingin mendapatkan jabatan bahkan penghargaan serta pujian. Syukur-syukur naik gaji hehehehe. Ya iyalah, namanya juga bekerja buat mendapat uang. Tapi ketika gue didorong untuk (yang menurut gue) bekerja lebih dari batas kemampuan, gue berharap lebih. Harusnya gue memandang positif bahwa memang gue bisa lebih dari itu. Dan kalau gie sudah gak suka kerja di tempat itu gue harus berani resign mencari yang lebih baik dong.

Ternyata ikhlas itu juga ada dalam halnya menjadi orang tua. Seperti orang tua lainnya, atau mama muda yang dikenal dengan sebutan mahmud, gue menjalani yang namanya hamil dengan pantangan makanan tertentu selama 9 bulan, lalu melahirkan secara normal dan jadi ibu menyusui dan ibu pompa, bergadang, belajar jadi Mama Tiger, belajar RUM, masak sendiri MPASI (demi pengiritan bukan penghargaan lho), lalu menahan tidak beli barang branded demi punya investasi, syukur-syukur anak gue bisa jebol masuk Ivy League. Lalu tiba-tiba saja tercetus dari mulut gue sendiri: Amit-amit kalau gue punya mantu kayak X, masa sudah capek-capek anak gue jadi Y.

Jleb. Jleb. Jleb.

Ternyata gue belum sampai ke tahap akan ikhlas kalau misal anak gue berjodoh misalnya dengan se-model Vicky. Tetap ya doa orang tua menginginkan yang terbaik menurutnya untuk anak-anaknya ya gak. Tapi menurut gue bukan masalah ikhlas gak ikhlas tapi gak rela :).

Tapi semoga gak terjadi, gue akan ikhlas ternyata di saat tua anak-anak gue lupa mengurus gue, berarti gue salah mendidik mereka. Sedih ya gue rasa, maka daripada itu daripada gue sedih dilupakan mereka lebih baik gue mencari teman sesama lansia.

Balik lagi masalah ikhlas dalam memberi. Satu hal agak menggelitik gue adalah ketika baca berita artis atau pejabat yang harus mengumumkan berapa binatang yang mereka kurban kan. Atau mengumumkan mereka habis memberikan paket sembako dimana dan berapa banyak. Atau mereka memberitakan sedang melakukan pengajian di panti asuhan agar didoakan. Kenapa mesti diberitakan seperti itu? Apa mereka ingin mengajak kita melakukan hal sama, syukurlah jika demikian. Tapi tanpa diberitahukan, gue yakin Gusti Allah itu pasti tahu kok :).

Gue jujur campur aduk antara senang dan sedih melihat orang terkenal minta didoakan di panti asuhan. Senang karena ada yang memperhatikan mereka para anak yatim meski sesaat, sedih karena belum tentu ada yang akan mengadopsi mereka atau menjadikan mereka anak asuh.Secara short term mereka akan senang mendapat perhatian tapi adakah yang memikirkan kelanjutan hidup mereka secara long term. Gue berharap andai kita meminta anak yatim mendoakan mereka, kita pun juga mendoakan untuk kehidupan mereka. Yes, i know kalau doa anak yatim akan dikabulkan oleh Allah, tapi pernahkah terpikir siapakah yang akan mendoakan untuk mereka?

Di akhir cerita, semoga tulisan ini selalu menjadi renungan gue selalu, di saat gue lupa bersyukur atau gue tidak ikhlas, semoga selalu ada orang di sekitar gue yang akan mengingatkan gue.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

6 thoughts on “Ikhlas

  1. ndutyke says:

    Yes, i know kalau doa anak yatim akan dikabulkan oleh Allah, tapi pernahkah terpikir siapakah yang akan mendoakan untuk mereka?

    >> …………….. ini jleb bgt πŸ˜₯

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s