Anak Perempuan

Seharusnya gue gak boleh protes, begini mungkin kalau hidup di negara yang masih tinggi budaya patriarki-nya, dalam beberapa sisi pasti anak berjenis kelamin laki-laki akan lebih didambakan. Perlu digarisbawahi kalau gue tidak mempertanyakan masalah kenapa imam beribadah harus laki-laki ya atau apapun yang sudah digariskan oleh ajaran agama.

Semua berawal dari ipar gue yang sedang hamil kedua kali, ternyata hasil pemeriksaan menunjukan bahwa dia mengandung bayi perempuan. Anak pertamanya adalah perempuan. Tiba-tiba dia mengucapkan kalimat ini: gak apa-apa nanti anak ketiga laki-laki.

That statement hits me actually, because right now I have only two beautiful daughters. I am now questioning myself: do I have to do the same thing? If not, why many people often advise me that I should get pregnant again so maybe our next child will be a boy?

*maaf ya ternyata tulisannya belum selesai, keburu hilang di handphone*

Dahulu waktu hamil anak pertama gue memang juga berharap punya anak pertama laki-laki. Alasannya sepele sie, hanya karena Bapaknya auditor suka keluar kota, maka harapannya gue masih punya laki-laki lain di rumah yang menjaga ibu dan adik-adiknya. Waktu yang kedua juga berharap laki-laki, supaya sepasang, kan kakaknya perempuan, habis itu langsung tutup pabrik hihihihi.

Apakah gue sekarang dan Mr. Y kecewa dengan “hasil” yang didapat? *hasil? kayak ujian saja*

Di luar ekspektasi, yes, kecewa, not at all.

Selain I am very blessed to have my babies, and I should be very grateful when others are trying so hard to have one, akhirnya ya kalau untuk memenuhi alasan di atas untuk mendapatkan anak laki-laki, ternyata I am able to take care of myself and my children alone kok. Ya sie gak bisa punya anak yang bisa gue dandanin rambutnya a la Mohawk, tapi kan si Lil’Miss K pernah gue dandanin a la kuncung (rambut sepitak di atas ubun-ubun, sisanya botak :P)*.

Punya anak perempuan pun menyenangkan, mainan Barbie segambreng milik eikeh kecil pun masih bisa gue wariskan, rok a la Skotlandia favorit danΒ  cardigan Barbie kesayangan gue waktu SD bisa gue wariskan juga. Ternyata dari zaman ke zaman gue dan anak-anak punya mainan favorit yang sama: Barbie, Sylvanians, Legoa dan Playmobil. Syukurlah Bapak gue yang galak itu mengajarkan gue merawat mainan gue, sehingga setelah 20 tahun masih bisa dimainkan.

Yang susah adalah punya anak dua2xnya sama-sama girlie, mari ya yuk ke Asemka cari pita jepit murah meriah lusinan biar gak rebutan. Nanti kalau sudah kenal make up, pakai punya gue saja ya nak…

Kalau punya anak perempuan sudah kepikiran harus lebih keras mengajarkan good manner, eh tapi punya anak laki-laki pun sama lah. Gue punya cita-cita seperti ibunya teman-teman gue di SMP, anak-anaknya pas jelang SMP dikursusin macam duta bangsa bu Mien Uno gitu, supaya bisa belajar tata krama di meja, berpakaian, gak seperti gue yang dapat pelajaran itu hanya di sekolah (yesssss, sekolah gue punya mata pelajaran macam tata krama).

Punya anak perempuan berarti harus punya persiapan dana pernikahan :). Karena sama-sama orang Jawa, meski bapaknya semi Jawa, ya seperti Bapak Ibu gue, pasti gue pengen mengadakan resepsi pernikahan anak perempuan gue dong. Kalau anak-anak mau mengadakan sendiri ya silahkan, tapi di pesta yang gue bayarin, tamu-tamunya ya tamu bapak ibunya. Ada yang bilang sayang uangnya mendingan buat beliin anaknya rumah, ya kalau gue pribadi masalah beli rumah itu urusan anak-anak gue, kewajiban mereka sendiri. Tugas sebagai ortu berhenti sampai menyekolahkan lanjut menikahkan anak-anak gue (sekolah dulu baru nikah ya nak). Kalau gak mau dipestain ya syukurlah, uangnya bisa buat gue sama Mr. Y pelesiran keliling dunia hahahahaha *evil laugh*.

Lebih susah mana menjaga anak perempuan atau laki-laki?

Sama saja, ketakutan gue sama besarnya jika anak gue mendapatkan menantu laki-laki yang tak berbudi (luhur) dengan jika anak laki-laki gue merusak anak perempuan orang lain. Sama kan seramnya, ya gak?

Gue dan Mr. Y sama pusingnya bagaimana mendidik anak laki-laki supaya bisa menjadi iman keluarga yang baik dengan mendidik anak perempuan sebagai calon pendidik utama cucu-cucu.

Akhirnya memang peran perempuan itu sama pentingnya sama laki-laki, meski terkadang di bidang yang berbeda.

Zaman sekarang menjadi perempuan tidak terbatas kegiatannya. Teman-teman gue yang perempuan banyak yang sukses di pekerjaan dan di rumah tangga. Perempuan zaman sekarang sudah bisa keliling dunia. Jadi sekarang anak perempuan sudah hampir bisa melakukan hal-hal yang dilakukan laki-laki ya gak?

Dan gue teringat, gue kan anak satu-satunya bapak ibu gue, perempuan gue yang alhamdulillah masih bisa menjaga nama baik bapak ibu gue… berarti perempuan pun bisa membanggakan bapak ibunya juga kan kan kan… (memangnya bapak ibu lo yas bangga sama lo ya? hihihihihi). –> jangan sampai ada yang bilang bapak ibu gue kecewa ya punya anak perempuan kayak gue :P.

Sejujurnya, yang paling gue takutkan kalau punya anak lagi ternyata gue punya anak laki-laki dan ternyata gue lebih sayang sama dia daripada sama anak-anak gue yang lain, karena gue dahulu pernah punya keinginan itu.

Tapi, keinginan itu disimpan dulu ya, kan gue feminis habis, masa gue mengagungkan gender lawan sie hahahaha. Meski banyak yang menyarankan gue hamil lagi, entah niat atau gak, atau berusaha agar punya anak laki-laki, maaf ya kalau gue cuma bisa senyum-senyum getir.

Gue tidak sedih kok gak punya anak laki-laki, toh laki-laki atau perempuan sama-sama bisa sukses tergantung balik lagi bagaimana orang tua mendidiknya ya gak…

Lagipula, secara keuangan, investasi yang kami miliki belum mencukupi untuk beranak 3 :P. Bagi posisi dan keadaan gue saat ini, di mana gue susah membagi waktu gue untuk keluarga dan pekerjaan, keadaan ekonomi gue, gue masih akan bertahan untuk mempunyai 2 anak saja. Boleh dong gue punya mimpi anak-anak perempuan gue sekolah di universitas Ivy League, jangan kayak gue yang mau sekolah S2 saja nunggu (beasiswa) sampai setua ini hihihihi.

Ternyata akhirnya dalam kasus gue ini berlaku falsafah financial planning: NEEDs versus WANTs.

So the case is closed ya, jangan menyuruh kami untuk punya anak ketiga. Bagi yang mau menyarankan kami untuk punya anak ketiga atau terus beranak sampai dapat anak laki-laki, maka tolong siapkan deposito investasi reksadana dahulu buat kami sebelum memberi nasihat yaaaa :D.

Advertisements

9 thoughts on “Anak Perempuan

  1. mrscat says:

    hihihi aku pas hamil dan ditanya orang, anaknya cowok apa cewek….kemudian aku jawab cewek, masak yg nanya bilangnya gini “ya udah gpp”….lah emang gak papa. sapa yg bilang papa. nyebelin bener.

  2. De says:

    gw cuma bisa bersyukur aja diberi amanah 2 anak dengan jenis kelamin laki dan perempuan. Pas, kalo kata orang.

    setuju sama Dani, menjaga mereka juga sama gak gampangnya kok. Apalagi di jaman serba digital sekarang ini.

  3. Dira says:

    Hallo Mbak, salam kenal ya πŸ™‚ aku baca post ini dan jadi ikutan mikir dan kritis (padahal masih single dan belum ada rencana nikah hehe) Mungkin ngga sih anak laki2 lebih ‘most wanted’ karena nantinya bisa ‘disuruh’ apa aja… mulai dari jaga orangtuanya, meneruskan nama keluarga, nerusin tinggal di “headquarter” keluarga besar (adatku di Sumatera). Sedangkan anak perempuan nantinya “diambil” sama keluarga suaminya. It’s just my two cent’s – lajang yang sebenernya semi feminis juga πŸ™‚

    • Mrs. Tyasye says:

      Saam kenal balik :). Iya ya, memang adatnya perempuan pasti diambil keluarga suami, di Jawa pun demikian katanya harus ikut suami. Kalau memang berjalan demikian, enak kan sebenarnya nanti as parents kalau sudah tua tetap ada yang mengurus kita :).

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s