Statutisasi Bahasa…

Langsung gue bakal dilempar khalayak dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi terima kasih kepada Vicky Prasetyo, mantan tunangan Zaskia Gotik yang menemukan kata baru dalam khasanah Bahasa kita ini. *smile*.

Post ini terinspirasi akibat baca post Si Ira tentang sending our daughter to college, sumpah ngakak pol polan nonton video.wawancara VP.

Tapi benar banget kalau Bahasa akan menunjukkan status kita dalam kehidupan sosial. Makanya banyak orang sekarang ini suka menggunakan bahasa tingkat dewa, supaya dipandang intelek, berwawasan luas, terpelajar dan lain sebagainya. Contoh nyata sebenarnya ada di depan mata gue sendiri, yaitu kantor gue. Dulu pas awal masuk gue terkagum-kagum dengan senior yang berbicara dengan bahasa dewa ini. Semua pasti ada kata atau kalimat stakeholders, early warning system, inflasi, restrukturisasi, harmonisasi ketentuan (yes ketahuan VP mungkin suka ketemu orang model apa), risk management, prudential meeting, etc. Apalagi ditambah “pose” atau apa itu sikap seperti orang yang bijak dan tenang. Wooooow gak sie.
Gue sebagai anak baru ya terkagum dengan bahasa ini. Tapi semakin ke sini sie gak ya karena lambat laun gue pun suka menyelipkan kata-kata yang sama meski kadang gue gak begitu mengerti secara mendalam artinya hahaha. I feel like tong kosong nyaring bunyinya sebenarnya. Apalagi nie kadang akal-akalan gue saja supaya gue kedengaran pintar hihihihi.

Oke dech kalau gue boleh mengaku, gue pernah sengaja pamer kepiawaian menggunakan kata dewa depan kerabat gue cuma supaya dia mengira gue pintar, plus pakai kata bahasa inggris pula hehehehe. Padahal sie otak gue ya begini-begini saja.

Terus kenapa gue bilang tong kosong nyaring bunyinya? Soalnya menurut gue pribadi, jangan tersinggung ya, lambat laun ketahuan mana yang memang intelek mana yang gak. Gak kelihatan jelas seperti VP yang salah menggunakan secara tepat, tapi ya bahwa dewa itu digunakan tanpa makna saja. Dan gue lebih suka orang yang irit berbicara tingkat dewa daripada yang berbusa-busa cuma buat show off depan bos. Kayak gue gak ngerti saja akal-akalan orang hahahaha.

Dan pas banget kemarin gue di depan pewawancara buat beasiswa, gue gaya-gayaan menjelaskan kenapa mau sekolah di Leiden karena I want to explore the impact and harmonization of the European Community on its goverment and business regulations. Sumpah, gue saja bingung apa maksud gue hahahaha.

Bahasa itu memang bawaan ya, mau dipoles seperti apapun, kalau kebiasaan berbahasa “preman” sudah mendarah daging, gak bisa berubah drastis. Pas banget gue rapat dengan institusi pemerintah lain, rekan kerja gue yang dilihat dari jabatan adalah pejabat, tetap ya semua kalimatnya diakhiri dengan kata “Ye”, “gitu dech” :-). Malunya gue, kata teman gue jangan-jangan gue malah dikira pejabatnya dan bos gue sebaliknya.

Selain itu, karena bahasa inggris gue pas-pasan, i can tolerate people who have difficulties in English speaking or pronunciation, as long you use the correct grammar rules. Sama kok, nilai TOEFL gue di speaking section itu hancur habis, gak sampai 25 hehehehe. Salah milih kata pun gak masalah, toh kita sama-sama belajar. Tapi tolong dong kalau jij gak bisa membedakan mana noun mana verb, mbok ya jangan dicampur ke dalam bahasa Indonesia pula. Apalagi menggunakan imbuhan -ing kemana-mana. Sebagai contoh adalah berikut:

Mas X: kalau menurut gue ya, kita harus sure bos kita dulu sebelum dia bertindak.
Me: maksudnya make sure atau assure ya mas?
Mas X: iya, Kita sure dulu gitu… Masa gak ngerti ya lo bahasa inggris?
Me: #(@;#-5-__?##_;;???? *wahai teman teman yg sarjana sastra inggris, apa gue yang salah mengartikan ya?*

Atau seperti ini:

Artis A: ya gue sebagai selebritis di dunia entertain…

Kadang kita harus menggunakan bahasa secara bijak, tergantung lawan kita bicara. Lagipula apa gunanya menggunakan bahasa tingkat dewa jika sedang melakukan sosialisasi ketentuan ke masyarakat kalau nanti mereka bingung pada akhir pertemuan.Sepanjang pengalaman gue terjun mengajar guru, siswa, mahasiswa dan masyarakat awam di perdalaman Indonesia, mohon maaf masih banyak yang bingung membedakan antara Bank Indonesia sebagai Central Bank dengan BCA sebagai Bank Central Asia, some of them thought both had the same level in our banking system. IMHO adalah suatu kegagalan jika lawan bicara kita ndak bisa mengerti apa yang kita sampaikan, benar tidak? Ketika turun ke lapangan gue lebih suka membuang atribut kebanksentealan gue, buang itu yang namanya stakeholder, early warning system, risk management etc. Lebih baik mereka bisa mengerti makna transfer, kliring, uang palsu, bedanya Kartu debit ATM dan kredit, bagaimana menghitung bunga dsb. Lebih berguna buat mereka menjelaskan kebanksentralan dengan bahasa populer dibanding dengan bahasa seminar tingkat internasional. Memangnya gue ketemu delegasi APEC kali ya.

Tanpa bermaksud merendahkan lawan kita, dengan menggunakan bahasa yang dapat mereka mengerti, mereka akan merasa tidak terintimidasi bahkan materi yang disampaikan akan lebih mengena.

Inti dari cerita di atas ya Mas Vicky, daripada anda terlalu berusaha keras menggunakan kata labil ekonomi dan memperumitisasi penangkapan lawan bicara anda, lebih baik anda menjelaskan secara jelas dengan kata biasa apakah anda mau membelikan rumah untuk Dek Zaskia.

Peace lah yaw!

Posted from WordPress for Android

Advertisements

3 thoughts on “Statutisasi Bahasa…

  1. sondangrp says:

    hahahahaa aku dari kemarin marathon baca si Vicky ini, aku nggak tau samsek soal.nya Dari blog Irra ke Saskia dan ke sini.
    Iya, kan kita komunikasi biar dimengerti orang ya, kalau orang nggak ngerti maksud kita bukannya kita malah rugi?
    Suamiku suka ngutip kalimat siapa ya itu, bunyinya something like ‘kalau kita nggak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, artinya kita belum paham mengenai hal itu’
    Aku masih ngakak yang penutupannya itu , mau mengkomunikasikan beliin rumahnya. Aduh, pagi pagi jadi ngakak lagi padahal kemarin udah ngakak.
    Btw penjelasan kenapa mau kuliah di Leiden itu juga bikin aku berpikir ulang tentang judul thesisku, yang kayaknya keren tapi kok aku juga nggak mengerti hahahaha.
    Eh salam kenal ya, aku Sondang, aku sering baca di sini tapi belum pernah kenalan.Aku suka bayangin kau si Mia karena Mia kerja di sana juga.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s