Yang Pertama dan Yang Kedua

Hampir sama dengan apa yang diobrolin @irrasistible dan suaminya di post The Risk of Getting Remaried, tanpa sengaja gue dan Mr.Y memulai topik yang sama, topik yang biasanya suka diobrolin ngalor ngidul pasangan suami istri, apa yang terjadi jika salah satu dari kami harus menghadap Tuhan YME lebih dulu.

Dimulai dengan perbincangan di mobil menuju BSD *sambil puk-puk bocah bayi yang setengah merem nonton Barney di mobil*, Ibu Mertua yang sampai saat ini masih berat melepas kepergian Alm. Bapak Mertua *ya susah ya, 39-40 tahun hidup bersama*. Lalu dilanjut dengan percakapan seperti ini:

Monsieur            : Ya kalau misalnya gue harus pergi duluan, menurut gue sie memang gak apa-apa kalau   Sye mau cari pengganti gue.

Madame              : Lho kok kamu begitu, lo gak mau gue tetap “setia” sama lo gitu? Tetap sendiri karena cinta sama lo sampai akhir hayat.

Monsieur            : Eh, itu bukan masalah setia-cinta-posesip-an. Ini masalah realita. Lagipula kalau gue sudah meninggal, gue gak punya kuasa

dan sudah seperti putus hubungan sama lo, buat apa gue ngatur-ngatur kamu kalau aku sudah gak ada. Di hari kiamat, pas

kita diminta pertanggungjawaban sama Allah pun di Padang Mashyar, gue pun gak bisa bantu istri aku atau anak-anak

karena sudah menjadi tanggung jawab masing-masing segala ibadah kita di dunia.

Madame              : Ooooooh…

Monsieur            : Ya, menurut gue lebih mudah bagi laki-laki ditinggal meninggal sama istrinya, daripada perempuan ditinggal mati sama

suaminya. Jadi menurut gue lebih baik si istri ada yang mendampingi, apalagi kalau sudah punya anak.

Madame              : Lah bukannya kebalik?

Monsieur            : Kalau laki-laki jadi duda, atau gue jadi duda, gue sie gak punya masalah dengan status ke-duda-an gue. Soalnya di

masyarakat pun, status duda tidak menjadi suatu masalah. Beda kalau misalnya status janda, lebih berat disandang dalam

masyarakat kita.

Madame              : Nah trus?

Monsieur            : Ya, gue sie misalnya harus sendiri, ya gue gak akan fokus ke status gue, tapi gue ya akan fokus ngurus anak-anak saja.

Pokoknya apapun yang terbaik buat anak-anak yang bakal gue utamain, bukan (kehidupan) gue. Kalau harus sendiri ya

sendiri saja buat anak-anak.

Madame              : Lah, apa bedanya sama istri ditinggal meninggal oleh suami?

Monsieur            : Menurut gue lebih berat istri kalau ditinggal sendirian ngurus anak-anak. Coba dech, segini berdua saja kita sudah sudah

berat apalagi pas aku harus pergi dinas lama, gimana kalau mau ngurus sendiri, ngurus rumah, keuangan (dengan tanpa

bermaksud meng-underestimate wanita ya, tapi peduli dengan ibu-ibu yang harus berjuang sendirian). Jadi lebih baik kamu

mencari yang bisa take care of you and the children.

 

Sejujurnya gw speechless karena gue termasuk jika terjadi sebaliknya yang akan meminta suami gue setia sampai ketemu di surga dan mengukir nama gue alias bikin tatto di badannya untuk mengenang istrinya ini hihihihihi :D.

Advertisements

4 thoughts on “Yang Pertama dan Yang Kedua

  1. scootzy says:

    Kemarin gue nonton film Safe Haven yang main Julianne Hough dan Josh Duhamel. Ada bagian dimana calon istrinya si Josh Duhamel membaca surat yang sudah disiapkan oleh almarhum istrinya si Josh Duhamel. Isi suratnya bikin mewek…

    • Mrs. Tyasye says:

      puk… puk… puk… Btw ada tuch film-nya si Meissy, ttg ibu yang bikin video buat suami dan anak-anaknya, trus bertekad mencari istri dan ibu buat anak-anaknya, karena dia divonis cuma bisa hidup beberapa bulan lagi, itu bikin nangis T_T.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s