Soal Di-Bully dan Mem-Bully

Surat terbuka untuk guru dan orangtua yang berinteraksi dengan anak yang suka mem-bully dan anak yang ter-bully…

Dear orang tua dan ibu bapak guru,

Ketika kami bertanya kepada anak saya yang saat ini sekolah di salah satu sekolah agama terbaik di sekitar rumah kami bagaimana dengan sekolahnya dan teman-temannya, anak saya menjawab bahwa dia lupa apa yang dipelajari disekolah dan tidak memiliki teman, saya tahu saat itu ada masalah di sekolah anak saya.

Oh ya, saya tidak mengada-ada. Anak saya kebetulan pernah sekolah selama sebulan saja ketika dirinya berumur baru 3 tahun di daerah Mampang Prapatan, sampai saat ini dia bisa mengingat ada pelajaran komputer dan berenang di kolam renang sekolah dan meceritakannya dengan binar di matanya. Jadi menurut anda, saya mengada-ada atau cepat tanggap merespons? Silahkan menilai saya :).

Saya menahan diri saya untuk tidak langsung menghubungi guru anak saya, saya tunggu mungkin ini akan ditangani oleh ibu guru, ternyata tetap jawaban yang sama akan keluar dari mulut anak saya. Okeh dech, mungkin saatnya saya bertindak.

Setelah berinteraksi via BBM, singkat cerita ternyata ibu guru tersebut mengetahui kejadian tersebut, dan bukan anak saya saja yang menjadi korban. Ada satu anak perempuan yang suka mengganggu anak yang terlihat lebih lemah atau dinilai sebagai saingannya. Untuk sekedar memberikan gambarannya, anak saya kebetulan dinilai aktif dan cerdas oleh guru-gurunya. Anak saya kebetulan diganggu pada kegiatan yang hasilnya akan memperoleh bintang misalnya berbaris tertib, anak pengganggu tersebut akan mengganggu anak saya agar anak saya tidak mendapatkan bintang. Bakat sikut menyikut dalam politik kantor terlihat jelas ya :).

Diskusi kami berlanjut bahwa anak pengganggu tersebut sudah dinasehatin dan anak saya kebetulan berteman dengan teman lain yang bisa melindungi anak saya. Maaf, jika anak saya berkesan tidak bisa membela diri, kebetulan saya tahu anak saya punya pribadi yang menganggap semua orang baik, salah satu kelemahan dirinya yang telah kami sadari sejak dirinya balita. Balik lagi ke diskusi dengan ibu guru, saya menganggap itu tidak cukup, saya hanya menegaskan kalau orang tua si anak tersebut perlu dipanggil dan menurut saya mungkin anak tersebut mempunyai problema di rumah yang tersalurkan di sekolah.

Mengapa saya berpikiran seperti itu? Karena bagi saya jiwa seorang anak itu masih murni, tidak pernah terbayangkan jika seorang anak bisa berpikiran mengganggu teman-temannya, suka membentak untuk menunjukkan kekuasaan dan menyabotase pekerjaan temannya, jika dirinya tidak mencontoh dari orang dewasa. Siapa orang dewasa terdekat yang akan di contoh: orang tua dan yang ada di rumah.

Saya tahu anak-anak yang nakal dalam kutip karena jahil atau ingin tahu, karena anak-anak selalu ingin tahu dan itu proses belajar mereka. Tapi melalui diskusi dengan ibu guru dan anak saya sendiri tentang perilaku anak pengganggu tersebut, saya tahu anak ini punya masalah, sama yang telah dicontohkan ibu Elly Risman.

Seminggu kemudian setelah diskusi saya dengan ibu guru, anak saya menceritakan bahwa keaadaannya sudah lebih baik. Woooow, bukan saya akan membahas tanggapannya cepat, jangan-jangan hanya saya yang mendiskusikan perilaku anak pengganggu tersebut ke ibu guru.

Kesimpulan saya dari kasus di atas adalah sebagai berikut:
1. Sebagai orang tua, tetap harus mempunya track record dari behaviour anak kita. Sekecil apapun perubahan yang terjadi merupakan menurut istilah di kantor saya early warning system.
2. Kami sebagai orang tua langsung inteospeksi, apakah kami kurang memperhatikan jenis sekolahnya, mengingat sekolah ini merupakan sekolah yang agak elite untuk golongan sekolah agama, seharusnya kami aware jenis lingkungan apa yang dirasakan anak-anak tersebut. Saya tidak tahu apakah lingkungan menengah ke atas ini termasuk mempengaruhi beberapa anak sedikit merasa berkuasa terhadap teman-temannya. Kebetulan anak kami tidak memakai sepatu bermerk, tas terkeren jadi dipandang mudah diganggu?
3. Kami berharap kepada ibu guru untuk memberitahukan hal-hal seperti itu kepada kami orang tua dari anak yang diganggu tanpa perlu kami bertanya atau anak kami terluka lebih dulu. Kami berharap bisa berdiskusi tanpa harus sampai membawa anak kami ke psikolog karena misalnya dampaknya sudah terlalu parah. Tahukah ibu guru, kalau anak saya tidak ditangani maslahnya mungkin bisa jadi dia akan melampiaskan ke adiknya atau ke teman-teman di lingkungannya? Kami harap diskusi ke depan dapat lebih terbuka.
4. Ohya, kami saat ini tidak marah kepada anak tersebut atau orang tua anak tersebut, karena kami lebih kasihan terhadap masa depan anak tersebut. Dengan melihat perilaku anak tersebut, bagaimana dia akan menghadapi masa depannya? Kami prihatin sebagai orang tua.

Demikian surat ini, semoga bisa jadi suatu perhatian untuk masa depan anak-anak kita :).

Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s