Menjadi Pegawai Negeri (Sipil)

Beberapa waktu lalu, di saat sedang mempertimbangkan career path bersama, di saat terpikir untuk menjadi dosen atau pengusaha sebagai pekerjaan sampingan, tercetus omongan ini dari mulut Mr. Y:”kalau gw keluar dari PNS, nanti di keluarga gak ada yang PNS lagi dong…”. Gue baru sadar kalau kami berdua itu sangat pegawai negeri sekali, maksudnya ya kerjanya di seputar pemerintahan. Dan baru sadar karena pengaruh lingkungan juga, both our parents are PNS, our grandparents are civil servants too. Jadi, menjadi pegawai negeri (sipil) seperti sudah mendarah daging.

Tapi faktor lingkungan bukan satu-satunya faktor pendorong kami berdua untuk menjadi pegawai negeri (sipil), ada tentunya banyak faktor pertimbangan lain dong. Mungkin gue boleh cerita sedikit bagaimana menjadi pegawai negeri, siapa tahu anak-anak gue pengen mengikuti jejak bapak ibunya membaca blog ini dan saat itu gue sudah keburu pikun hihihihihi… Tapi kurang lebih gue akan menjawab pertanyaan yang suka dilempar oleh orang-orang di sekitar gue, terutama yang ingin menjadi PNS.

1. Kenapa Jadi PNS?
Kalau Mr. Y akan menjawab karena menjadi PNS adalah pekerjaan tetap pertama dia, dan dia menyukainya karena benefit yang sekarang telah dia peroleh. Kalau gue akan menjawab, sama persis yang gue tulis di motivation letter yang gue kirim ke kantor untuk apply beasiswa dan ke graduate school yang gue incar saat ini: being a part of decision makers always fascinated me. A woman version of Hitler apa kali ya gue? Hahahaha… Dari dulu memang cinta banget baca sejarah, jadi ya beginilah, gue merasa tergugah dengan Revolusi Perancis, larut dalam Perang Saudara di AS, takjub bagaimana iparnya Napoleon Bonaparte yang diplomat bisa menahan suatu perang atau tidak.

Sejak SMU gue sudah bertekad untuk menjadi diplomat, masuk Fakultas Hukum pun supaya wawasan hukum internasional gue kuat, meninggalan panggilan magang di kantor hukum terkenal di Jakarta demi menyelesaikan kuliah supaya cepat jadi diplomat. Apa daya, bukan faktor gue gak lulus di Kemenlu, tapi di saat panggilan wawancara ibu gue melarang anaknya menjomblo keliling dunia… Tenang saja, gue gak menyesalkan keputusan ini, memang pertimbangan ibu gue benar adanya, saat ini gue merasa sulit membangun dua rumah terpisah pulau saja. Tidak menjadi diplomat, gue dan Mr. Y terdampar di lembaga negara yang mengurusi pemeriksaan keuangan. 3 tahun gue bertahan, terus pindah ke lembaga lainnya yang tetap pegawai negeri tapi tidak sipil :). Yang penting tetap bisa menjadi bagian dari decision makers (sambil ketawa ala Stanlin dan Hitler hihihihi).

2. Bagaimana Bisa Lulus Menjadi PNS?
Kalau boleh jawab asal sie, gue akan jawab kalau kami bisa lulus karena pakai mikir dong hahahaha… Kami berdua sangat terganggu kalau ditanya langsung bayar berapa untuk masuk ke lembaga negara tempat kami bekerja. Zzzzz.

Karena sumpah p*c*ng hanya milik F4rh4t 4bb4s, jadi kami pun juga tidak mau bersumpah kalau kami benar-benar tidak pakai bayar apapun kecuali ya kartu kuning buat melamar kerja itu ternyata harus bayar *kirain gratis*. Kebetulan waktu kami berdua ikutan ujian di lembaga negara itu dan kali kedua gue ujian di kantor gue sekarang, ujiannya diselenggarakan oleh pihak ketiga. Dan kami berdua tidak punya pun keluarga di lembaga tersebut. Tambah lagi, meski Alm. Bapak-nya Mr. Y dibilang punya jabatan, eventually beliau tipikal cuek bebek sama karir anaknya. Kalau saya mah, anak daerah dari orang tua yang sekedar dosen di perguruan tinggi, modal awal karir saya hanya tabungan lebihan beasiswa sebesar Rp4 juta untuk mengarungi hidup di Jekarca.

Enaknya, karena bebas KKN pas masuknya (dan insya Allah seterusnya ya), kami berdua tidak punya hutang budi kepada siapa pun dalam konteks melebihi pekerjaan, jadi kami merasa bisa bekerja lebih bebas dan lebih berkembang. Saat ini beberapa lembaga pemerintah dan lembaga negara, maupun otoritas pengatur dan pengawas seperti kantor kami sudah transparan dalam melakukan rekrutmen, menyerahkan proses rekrutmen pada pihak ketiga.

Pintar saja tidak cukup, semua orang bisa punya good grades, sehat secara jasmani, tapi having a good attitude is a must. Bayangkan, rekrutmen Pendidikan Calon Pegawai Muda angkatan gue dulu ada 20 ribu aplikasi yang masuk, yang menjadi rekan gue seangkatan hanya terpilih 123 orang. Menurut analisa gue, tipikal yang bekerja di kantor gue adalah sama. Jadi tahapan wawancara yang akan menjadi penentuan.

Kalau ada yang bertanya apakah KKN sangat kental, misalnya anaknya pejabat yang masuk, atau anak diplomat pasti masuk, kalau menurut pendapat gue ya dari sisi pandangan positif ya, itu karena kepribadian yang sudah terbentuk karena orang tuanya kerja di tempat yang sama. Apalagi calon sudah akrab dengan lingkungan tersebut atau sudah punya keterampilan misalnya berbahasa asing yang bukan umum seperti Bahasa Perancis atau Bahasa Jerman dari peserta lain. Pintar sie boleh, tapi keterampilan itu lama dibentuk lho.

3. Lembaga PNS yang Paling Keren dan Menjanjikan?
Jujur gue sama Mr. Y tidak tahu. Balik lagi semua tergantung education background dan minat masing-masing. Karena Mr. Y tertarik di bidang ekonomi dan keuangan maka dia betah di kantor sekarang. Kalau gue karena gue suka sisi ekonomi, hukum, teknologi dan bisnis perbankan dikemas jadi satu, maka gue terjerat di kantor saat ini. Menjanjikan adalah kami berdua melihat dari career path serta jaminan kesehatan yang kami peroleh. Lalu ada kesempatan beasiswa melanjutkan pendidikan di luar negeri yang membuat kami semakin betah. Sebagai contohnya, Mr. Y telah menyelesaikan kuliahnya di Indonesia dan Jepang dengan bantuan pemerintah Indonesia dan Jepang. Dan insyaallah gue akan menyusul sekolah dengan biaya kantor. Kebetulan di Jepang teman-teman Mr. Y ada yang berasal dari Kemenkeu, Kemenhut bahkan dari Pemkab Sinjai.

Apakah kantor gue dan Mr. Y cukup keren dan menjanjikan? Keren banget dech sampai kami betah :).

4. Apakah Jadi PNS Harus Mempunyai Idealisme dan Tujuan Karir?
Perlu dong, karena tahu kan saat ini, paling banyak berita PNS yang terlibat kasus korupsi. Sama di perusahaan swasta, sebagai PNS kita bisa mengembangkan jalur karir kita. Menurut gue tidak apa-apa kita punya tujuan ingin menjadi misalnya Gubernur Bank Indonesia atau Menteri Keuangan atau Ketua BPK-RI atau Menteri BUMN. Apa salahnya juga bercita-cita ya gak? Gue tahu sebagian PNS menjadi PNS hanya karena supaya dapat pensiun atau kerja tidak sepadat pegawai swasta. Jadi kadang suka terlihat PNS kerja seperti asal kerja habis itu minum kopi baca koran atau pakai baju PNS mondar mandir jam kerja di Tanah Abang. Semoga PNS muda saat ini tidak seperti itu ya. Makanya perlu kita punya tujuan karir di kepemerintahan ini. Sekali-kali, biar PNS itu dianggap profesional, kan kita jadi bangga juga.

Menurut gue perlu banget punya idealisme. Kami beruntung setidaknya kami berasal dari keluarga yang cukup, jelek kata jika kami tidak bisa kaya, masih bisa ada atap di atas kepala. Syukur-syukur kami tidak punya keinginan aneh. Sedih lihat rekan sesama PNS di Kementrian X yang tahun-tahun lalu kesangkut masalah korupsi, padahal seumuran kami berdua. Gue jujur membantin, mbok ya kalau korupsi jangan bodoh-bodoh banget, perlu ya ke kantor pakai mobil mewah mencolok mata.

5. Apa Jadi PNS Bisa Jadi Kaya?
Bisa, dengan banyak menabung hahahaha… Eh bener lho, gak cuma PNS, pegawai swasta pun kalau mau menjadi kaya ya harus menabung dulu. Kecuali bapak ibu kita konglomerat:). Serius ya, yang bikin PNS terkesan miskin ya mungkin gede pasak daripada tiang hidupnya. Tanya para ahli keuangan dech, gak ada minimal penghasilan untuk menjadi kaya, yang ada minimal persentase yang harus dikumpulin untuk mencapai financial freedom. Gak perlu korupsi dech.

Gak percaya? Mr. Y saja bisa mencanangkan kapan kami bisa beli mobil jenis wah wah wah dengan bayar tunai sekian tahun dari sekarang. Tapi dengan syarat: gw gak boleh makan di mall, gw harus naik angkot dan kereta kemana2x meski bawa serombongan anak, gw gak boleh belanja online sekian tahun, gw harus bawa bekal, gw gak boleh belanja baju lagi kecuali yang di lemari harus dijual dulu, lho lho lho kok gw semua *ternyata istrinya boros*. Tapi ya teuteup, sekian tahun ya berlaku, tidak sekejap apalagi menanti dari langit.

6. Apakah Jadi PNS bisa kerja 9 to 5?
Jawabannya, gak semuanya… Dan jarang terjadi sama gue dan Mr. Y, yang ada kami sering lembur. Makanya kalau ada urusan dengan PNS trus pas sampai kantornya tak ado, langsung bisa gw marah cuap cuap kalau alasannya ndak jelas.

Mungkin ini saja cerita menjadi PNS, nanti akan gue ceritain hidup sebagai PNS.

Advertisements

7 thoughts on “Menjadi Pegawai Negeri (Sipil)

  1. Bibi Titi Teliti says:

    Hah??
    Jadi..jadi…maksudnya ini benataran lagih mau ke Jepang gituh?
    Seriusan?
    Beruntung sekaliiiii…salamin buat Hideaki Takigawa ama Takuya Kimura yah…hihihi..
    *selalu larinya kesono deh..hihihi…*

    Jalan apapun yang kita ambil, menjadi PNS, pegawai swasta ato emak emak rumahan, menurutku sih selama kita tulus jalanin nya, InsyaAllah akan selalu dimudahkan πŸ™‚

    Mudah2an beneran bisa ke Jepang yak πŸ™‚

  2. Monica Gabriella says:

    mbak… kok rasanya saya sejiwa banget dengan mbak sih.. saya masih 18 tahun sih mbak, dan baru lulus tes UGM dan STAN. di UGM juga saya ambil fak. hukum, karena cita2 saya pengen jadi diplomat. Hahahaa.. study di luar negeri nya juga… semua orang bilang bagusan masuk STAN aja, karena langsung jadi PNS Kemenkeu.. menurut mbak bagusan pilih yang mana?

    • Mrs. Tyasye says:

      Hai Monica, salam kenal. Mohon maaf nie, jawaban gue mungkin gak banyak membantu, karena dua-duanya sama bagusnya. Namun dua pilihan di atas fakultas hukum dan sekolahan ekonomi adalah hal yang berbeda dengan jenis pekerjaan yg berbeda, meski nanti jadi diplomat gak selalu lulusan hukum dan kerja di depkeu gak selalu lulusan ekonomi. Apalagi ketika lulus semua kesempatan terbuka luas pilihan beragam bikin pusing hihihihi. Yang bisa gue sarankan Monica bisa memilih sesuai dengan Monica yang yakin bisa mengembangkan diri, memang potensi Monica di bidang itu. Semoga sukses ya

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s