Just My Two Cent: Turis Telanjang dan Sandal Jepit

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Artinya: alam kehidupan sehari-hari kita harus menghormati atau mematuhi adat-istiadat dimana tempat kita tinggal.

Gue sangat suka peribahasa ini. Kalau Bapak gue suka memberikan peribahasa “di kandang kambing kita mengembik, di kandang ayam kita berkokok”… (beneran ada peribahasa macam ini gak ya?!?). Kalau Bapak gue suka menyebut peribahasa ini untuk mencontohkan gue kalau gue ke rumah orang atau ke kota/daerah lain, gue harus mematuhi aturan atau adat istiadat setempat. Mungkin Bapak gue bawa-bawa hewan dalam peribahasanya karena beliau dokter hewan kali ya.

Balik lagi ke peribahasa di atas, gue teringat lagi gara-gara baca 2 (dua) berita di portal berita ternama tentang seorang dosen PTN di Pulau Jawa yang mengadukan Kantor Imigrasi DIY Yogyakarta ke Ombusman karena dilarang masuk kantor tersebut karena yang bersangkutan memakai sandal jepit. Berita kedua adalah seorang turis asing wanita naik motor di Bali tanpa penutup bagian badan atas (penulisan memenuhi azas kesopanan supaya tidak dikira ini blog asusila hehehehe). Gue sie tidak akan memperdebatkan salah atau tidak pakai sandal jepit ke kantor layanan publik, atau salah atau tidak berbusana minimalis atau bertelanjang seperti itu, tapi balik lagi ke peribahasa di atas “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Apakah kedua kasus ini akan menjurus ke arah ‘pelanggaran hak asasi manusia”? Semoga tidak ya. Menurut pendapat pribadi gue seharusnya kasus ini tidak perlu menjadi berita yang harus masuk ke situs portal berita kalau peribahasa itu tetap dipakai. Apakah berhak Kantor Layanan Publik tersebut menerapkan aturan tidak boleh memakai sandal jepit bagi pengunjungnya? Tentunya berhak. Apakah hal tersebut merupakan bentuk diskriminasi? Belum tentu juga, kan tidak menharuskan pengunjung datang dengan alas kaki dengan brand tertentu.

Gue teringat kata beberapa orang tua, seperti Bapak gue, mungkin pemikirannya cukup kolot. Sebenarnya gue itu dilarang oleh beliau untuk memakai alas kaki sejenis sandal untuk ke sekolah atau kuliah. Di tempat beliau mengajar pun para mahasiswa meski datang dari pelosok perdalaman Indonesia pun dihimbau memakai alas kaki tertutup. Setahu gue di tempat kuliah sepupu-sepupu gue di Fakultas Kedokteran bahkan mereka dilarang memakai kaos untuk kuliah. Gue pernah mempertanyakan alasannya. Jawaban Bapak gue cukup simpel, bagi beliau memakai sandal jepit itu hanya untuk ke kamar mandi. Titik. Sebenarnya makna filosofisnya adalah kita juga menghormati orang yang akan kita temui. Memang sie, kebayang juga ya kalau kita sudah dandan rapi lalu bertemu seseorang dengan pakaian sekenanya. Sekenanya bukan berarti miskin lho, tapi dikategorikan tidak rapi. Gue tahu beberapa kantor pemerintah menerapkan wajib memakai sepatu saat datang ke lingkungannya. Kantor gue pun demikian,ada larangan untuk memakai sandal. Apakah kami diskriminatif? tentu tidak, kami hanya menghimbau pengunjung agar berpakaian rapi, siapa tahu tiba-tiba berpas-pasan dengan anggota dewan gubernur :). Wartawan yang datang ke tempat kami gua lihat pun rapi-rapi, bahkan cleaning service, petugas di taman pun rapi. Kembali lagi ditegaskan, rapi itu tidak mesti branded lho. Kalau hal itu sebagai diskriminasi, lalu larangan merokok di tempat umum atau di rumah tetangga, larangan meludah, larangan membawa makanan lain di restoran dan larangan-larangan lainnya itu apa ya?

Bagaimana kasus si turis wanita asing yang tidak memakai penutup badan atas? Balik lagi ke peribahasa yang sama. Seumur-umur gw tinggal di Paris, gw belum pernah melihat wanita telanjang dada jalan-jalan. Baju mini ya pernah. Telanjang dada ya belum pernah. Seyakin-yakinnya mereka pun akan memilih tempat untuk melakukan hal tersebut bukan, seperti di pantai. Pasti mereka memikirkan norma yang berlaku di daerah tersebut. Bukannya Indonesia itu kolot atau tidak terbuka terhadap perubahan zaman (ini bukan kategori perubahan zaman ya), hanya saja memang masing-masing negara punya adat istiadat masing-masing. Apalagi membawa ke ranah Hak Asasi Manusia, tentunya HAM seseorang tidak akan mengusik HAM orang lainnya.

The point is adalah memang akhirnya kita harus saling menghormati, toh juga memakai sepatu pun tidak akan menyakiti siapapun, memakai pakaian yang pantas pun tidak akan membuat bangkrut, bahkan memakai bikini secara lengkap ketika naik motor malah membuat kita terhindar dari namanya masuk angin hehehehehehe.

Terakhir, gua pernah nonton di VoA ada sekolah di Amerika Serikat yang menerapkan hari “Dress for Success”, dimana para murid dihimbau berpakaian sedikit rapi (bahkan seperti pekerja kantoran) ke sekolah selama satu hari dalam seminggu. Ternyata program ini membangkitkan rasa percaya diri anak-anak tersebut dan ditandai dengan peningkatan partisipasi mereka di kelas dan nilai-nilai mereka.

Jika peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung kita ikuti dan ternyata membawa manfaat lebih banyak, kenapa tidak kita ikuti saja, ya gak?

Happy weekend all. 😉

Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s