Pemimpin, Pemerintah dan Rakyatnya

Post ini agak melenceng sedikit, sebenarnya jauh ding… Siapa tahu darah mendidih gw sejak zaman “perjuangan 1998” masih membara wkwkwkwkwkwkwkwkwk.

Gara-gara tadi pagi di JakFM dibahas-lah Bapak SBY katanya ngambek gara-gara diminta “mblusuk” (masuk ke permukiman masyarakat/turun ke lapangan) oleh beberapa perwakilan masyarakat.terus dibahaslah tentang mau pemimpin seperti apa untuk Indonesia, rata-rata dijawab oleh pendengar model-model diktaktor seperti Stanlin, Fidel Castro. Alasannya? karena lack of discipline-nya orang Indonesia. Menurut mereka, Indonesia perlu dipimpin oleh pemimpin yang bertangan besi, kalau perlu sekali berbuat salah langsung dooor… Weeeeeks serem banget ya.

Apa perlu segitunya ya? Kalau melihat kanan kiri, paling sering berapa banyak sie kendaraan beroda dua atau empat bisa tertib di jalanan, sudah tahu macet masih berusaha menyelinap pas ketemu lahan selebar dengkul, sepertinya… heeeeem… perlu kali ya. Bukan langsung tembak dor begitu salah, tapi seorang pemimpin yang bisa tegas menjamin kepastian hukum itu ditegakkan.

Kenapa orang Indonesia susah sekali ditertibkan? Oh jangan salah, Singapura yang sekarang bersih rapi jali seperti sekarang, dahulu kala tidak seperti itu. Gw lupa ya nama Perdana Menterinya yang berhasil membuat orang-orang Singapura itu mau masuk ke kamar mandi, bukan buang air di kali wkwkwkwkwk… gak menyangka kan? gw pernah baca ini di Time Magazine kalau gak salah. Dan perlu beberapa dekade sampai mencapai tahap serapi jali bersih aman tentram ini.

Enw, balik ke Indonesia, gw pernah baca kalau tidak salah di buku Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat, tentang kau-tahu-siapa-dia (tentu dong, Bung Karno gitu). Nah Bung Karno itu bertutur bahwa ketika habis kemerdekaan, beliau naik kereta-lah dan di kereta bertemu dengan rakyat yang tidak membeli karcis. Ditanyalah beliau kenapa tidak membeli karcis, dijawab karena kita sudah merdeka. Kisah ini dibahaslah berdua sama Mr.Y, secara ya kami berdua adalah aparatur negara. Apakah gaya kepemimpinan saat ini (setelah krisis moneter) kurang “greget”, apa memang bangsa ini perlu “disetir” dengan disiplin tinggi, dimanakah batasan antara HAM itu, HAM mana yang dicederai.

Teringat juga betapa kesalnya kalau mendengar orang kerjaannya hanya protes melulu tentang keadaan di jalan, kejahatan, pekerjaan, bahkan pemerintah. Di satu sisi kita memang memerlukan pengamat dari luar yang akan memberitahu hal-hal yang masih perlu diperbaiki, dan para pengamat itu jumlahnya cukup banyak. Tapi kita juga perlu pelaku, yaitu orang-orang yang mau melakukan perubahan dan perbaikan. Masalahnya jumlah pelakunya masih sedikit.

Dari pelatihan-pelatihan pengembangan diri, ada satu hal yang gw paling ingat, kalau ingin mendapatkan sesuatu (rezeki) maka sebelumnya harus memantaskan diri untuk mendapatkan rezeki itu. Kalau dulu pernah diumpamakan dalam suatu film, sebelum hujan turun agar dapat menghasilkan panen terbaik, maka ladang itu perlu digemburkan dahulu bukan?

So, sehubungan kepala gw sudah mumet, karena sudah lama sekali gak menulis hal-hal seperti tulisan para dewa ini (maksudnya hal-hal yang masih di awang-awang), mari kita sudahi tulisan ini dan kembali bekerja *dipantau bos dari belakang* hihihihihihihihi

Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s