Kenapa perlu liburan?

Karena cuma saat liburan saja gw sama Mr. Y bisa memaksimalkan waktu kami ke anak-anak.

Kebetulan gw sama Mr. Y bekerja, meski berjenis ambtenaar, maksudnya pegawai negeri, dapat pula jenis pekerjaan yang cukup high demanding waktu kami berdua. Si Tuan biasa dapat tugas dinas ke daerah sampai minimal 30 hari kalender, hampir ngalahin record Bang Toyib yang gak bisa ngerayain Idul Adha bersama, dan gw lebih sering sampai rumah setelah Maghrib. Masa gak ketemu anak-anak di malam hari. Terima kasih atas usaha saya sendiri mendisiplinkan anak-anak untuk tidur sebelum jam 8 malam, malah mereka tertib sekali jam tidurnya dan gw merasa kekurangan momentum bersama T_T. Jadi mau orang berkata yang penting kualitas daripada kuantitas bertemu dengan anak-anak, itu tidak bisa berlaku di keluarga kami, susah diterapkan.

Bayangin saja, waktu kami bertemu penuh dengan anak-anak bisa saja hanya pas weekend saja, dimana saat itu kami sudah terkaget-kaget dengan hasil asupan didikan duo teteh, para asisten kami. Meskipun sejalan, pasti ada sekitar 10% yang gak sesuai dengan garis besar haluan keluarga Koala. Belum lagi kangennya sama anak-anak itu lho, pasti bawaannya ingin memanjakan mereka selalu.

Gw teringat dengan percakapan dengan teman gw, seorang ibu yg sudah senior di bidang kehidupan berkeluarga dengan 2 anak, ketika gw bertanya kenapa dirinya suka mengajak anak-anaknya berlibur ke tempat-tempat hiburan seperti acara wajib tahunan. Dia cuma bilang ingin anak-anaknya mempunyai kenang-kenangan masa yang senang dengan orang tuanya. Kalau teman gw yang lain kemarin mengajak gw ikutan tur ke Australia, gw tanya kenapa dirinya mengajak anaknya, dia menjawab liburan tanpa anak kalau bisa dibawa berasa makan sayur asem tanpa nasi.

Me time gw kemana ya? Alhamdulillah, gw masih mendapatkan waktu untuk diri sendiri cukup banyak, kebetulan banyak mendapatkan kesempatan business trip dahulu kala hehehe sekalian colek kantor, atau spa salon, jalan-jalan sama saudara atau teman (tanpa bawa anak tentunya). Sebagai wanita dan manusia, perlu banget punya waktu hanya untuk diri sendiri, yang tergantung dari selera masing-masing. Sejujurnya lebih murah menghabiskan liburan sendirian daripada bawa segerombolan hahaha…

Bagaimana kalau mau bulan madu kedua, ketiga, keempat, dsb.? Hahaha, lupakan saja, rencana tinggal rencana, dalam waktu dekat. Tapi dalam jangka lama ke depan, jika rezeki bisa ditabung dan diinvestasikan dengan baik, kami ingin pensiun umur 50 tahun, keliling semua pelosok bumi hanya berdua dan kaya raya. Amin :). Somehow, ada satu hal yang gw harus realistis, bapaknya juga milik anak-anak, mereka berhak akan kehadiran bapaknya setelah ditinggal bapaknya sebulannya. So our “us time” came in form of a short gateway for pijat berdua di Bersih Sehat, nonton film di bioskop dan keliling mall, makan sop kaki kambing di Bogor, lari berdua keliling kompleks atau menghabiskan macet Jekarca di mobil ;). Paling sial sie, di tempat tidur sambil menatap genteng yang bocor hihihihihi… Sisanya liburan colongan kalau ada kesempatan.

Jadi jika kami memilih liburan segerombolan, bukan karena kami menyediakan budget yang berlimpah, no no no… Belum lihat ompreng makan gw ke kantor kan hehehehe. Dan mumpung nie mumpung gw sama Mr. Y bisa dapat cuti agak lama, dan menilik tabungan thanks to annual bonus in the end of year, akhirnya pergilah kami berempat ke Malang. Mari mengucap Alham… Dulillah :)).

Kemana pun liburannya, mau di Bandung, Hong Kong, bahkan Ragunan, Monas dan Kebun Raya, kalau melihat muka senang Little Miss K dan Baby K, bahkan sekedar menyambangi Pasar Modern BSD, berasa sekali semua perjuangan di KRL ataupun jalanan, semua jerih payah mencari sesuap nasi dan setumpuk surat deposito telah mendapatkan imbalan terbaik.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa perlu liburan?

  1. De says:

    setuju … liburan bersama anak biar cuma 1 hari dan gak jauh dari rumah … tetap beda dan pastinya berasa lengkap.

    kalo gw sih liburan bukan untuk balas dendam atas waktu ketidakhadiran orangtua di sisi anak, tapi untuk lebih mendekatkan antara ortu dan anak. Karena biarpun 24 jam kita ada di sisi anak, saat di luar rumah kondisinya belum tentu sama.

    Dan saat kita bersama anak tanpa orang lain, ikatan batinnya bisa terbentuk lebih erat lagi.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s