Keragaman Beragama dan Etnis Sosial Budaya bagi Anak-Anak

Okeh, sebelum memulai kerja di pagi hari ini, gw pengen nulis sedikit *sambil bersihin debu-debu di blog*. Topik di atas agak berat yey buat memulai pagi, gak apa-apa ya, pengen nulis sebagai kenang-kenangan nanti kalau anak-anak sudah besar :).

Kebetulan saat ini Keluarga Koalas tinggal di daerah yang menurut pendapat beberapa orang dihuni oleh setengahnya non muslim dan berdarah Tionghoa, kalau dari pengamatan ke sekeliling tetangga. Mungkin karena harga jual perumahan di kawasan tempat gw tinggal memang tidak tergolong murah *ini bukan mau pamer ya, hanya memaparkan fakta mendukung analisa*. Ada beberapa teman kami yang bertanya hal tersebut kepada kami, meskipun tidak bersifat menghakimi ataupun rasis, namun tetap mereka bertanya. Sebenarnya ada teman yang membeli rumah di dekat kawasan rumah gw di perumahan yang bersifat islami *dari namanya sudah ketahuan:)* ataupun maaf ya ada teman lain yang membeli di kawasan yang sama tapi beda cluster atau pengembang dengan alasan “di perumahan gw gak ada etnis X*. Kalau kami akan ke mall pun kami akan bertemu dengan warga yang mayoritas etnis tertentu di Alam Sutera.

Apakah kita tidak memikirkan hal tersebut? Kalau mau jujur, ya kita memikirkan hal tersebut.

Kami memikirkan sebelum membeli rumah tersebut, dan hal tersebut sudah dipikirkan masak-masak, dengan hasil kami tidak keberatan dengan perbedaan tersebut, karena dalam pemikiran kami karena anak-anak kelak akan memulai pendidikan dasar di sekolah berbasis agama Islam, maka tidak ada salahnya dia bisa mengenal keberagaman tersebut di luar sekolah, yaitu di lingkungan tetangga.

Saat ini Zia punya sahabat baik, laki-laki sepantaran bernama Endru. Yang lucunya Endru kalau hari minggu suka mengajak Zia ikut ke sekolah minggunya, just because karena ingin terus bermain dengan Zia *jangan berpikiran aneh2x yaaa :)*, dan meskipun itu tidak bisa dilakukan Zia, kadang pun Zia balik mengajak Endru ke sekolah malam *saat itu tarawih, maka kita sebut sekolah malam wkwkwkwkwk*. Ketika di komplek kami bertemu dengan komunitas Islam, dan membentuk Forum Komunikasi, apakah kami langsung senang? Ya biasa-biasa saja sie, karena menurut kami berdua namanya agama adalah masalah pribadi.

Apakah Zia pernah menanyakan mengenai perbedaan tersebut?
Tentunya pernah. Zia pernah bertanya kenapa Endru ke gereja sedangkan Zia tidak boleh ikut. Susah banget sie mau menjawabnya tanpa menimbulkan kesan menghakimi. Kami berdua tidak mau mengajarkan anak-anak kami perbedaan agama dengan menilai agama lain itu jelek semua. Kenapa? Karena kebetulan keluarga kami mengenal perbedaan agama di dalam keluarga besar, dan kebetulan sekali keluarga dari ibu gw itu 50:50 beragama Islam dan Katolik/Kristen. Kami mengadakan arisan di saat Lebaran agar semua anggota keluarga besar Djojosoebroto bisa berkumpul dan berkenalan satu sama lain, begitu pula Desember ini akan ada arisan keluarga di saat anggota keluarga yang lain merayakan Natal. We just respect each others, and family comes first than ego. Di sini gak ada paksaan, benar-benar murni suasana berkumpulnya yang kita maknai. Misalnya, Mr. Y tidak terbiasa mengucapkan selamat Natal *karena didikan sekolah Islam* ya gw gak paksain *gw adalah hasil didikan sekolah Katolik*, yang penting kita tetap ramah menanyakan kabar masing-masing.

Bagaimana cara menjelaskan perbedaan itu?
Ya dengan jujur bahwa meskipun semua orang percaya dengan namanya Tuhan, cara mereka menghormati Tuhan itu berbeda-beda, bagai cara kita memilih mau naik kereta, sepeda atau mobil. Hehehehe, cara menjelaskan gak perlu ribet, nanti saja disesuaikan dengan kemampuan mereka bernalar. Don’t make them confuse, tapi jangan menutup-nutupi juga atau menjelek-jelekkan.

Kemarin di Mall Living World Alam Sutera, ada perayaan natal besama tokoh Sylvanians *mainan role play anak-anak*, Zia minta itu ikutan menari di bawah. Kebetulan sekali lagunya adalah Merry Christmas. Apakah gw memperbolehkan? Tentunya tidak, bukan karena gw gak mau anak gw “terkontaminasi”, no…no…no… Bukan itu alasan utama gw, gw cuma ingin anak gw belajar untuk menghargai perayaan umat agama lainnya, dimana ada kalanya kami hanya ingin anak gw belajar bahwa ada hal-hal yang tidak selalu diikuti. Saat itu gw hanya berbisik bahwa teman-teman di bawah lagi merayakan perayaan Endru, seperti Zia lagi belajar Iqro belum tentu ingin diganggu.

Semoga sie anak-anak mengerti perbedaan itu indah, akan lebih indah jika kita saling menghormati batas masing-masing :).

Advertisements

2 thoughts on “Keragaman Beragama dan Etnis Sosial Budaya bagi Anak-Anak

  1. irrasistible says:

    Gue jadi inget keluarga bokap gue. Kalo kita dateng pas hari Natal ke rumah alm Bulik gue, isinya lebih dr 50% pake jilbab, hahaha.. Bahkan pas kebaktian nikah sepupu gue, isi tamunya ya lagi-lagi banyak yg jilbaban bok.

    Kalo gue sih ngeliatnya, gak masalah buat yang kayak gini. Sekalian kasitau Nadira, Indonesia itu nggak cuma Islam doang. Ada beberapa agama lain di sini. Lagian kayak Yann Martel bilang di Life of Pi: “Faith is a house with many rooms. Doubt is useful, it keeps faith a living thing. You can not know the strength of your faith until it is tested.”

    Somehow gue percaya cara berkomunikasi dan menjangkau Tuhan itu beraneka ragam. Kayak pepatah banyak jalan menuju Roma gitu lah. Jalannya macem-macem tapi tujuannya tetap satu. Dan tiap orang bisa dan boleh memilih jalannya masing-masing, tergantung minat dan selera πŸ™‚

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s