Anak-anak Kami Bukan Anak Sapi

 

diambil dari tulisan gw di FB tertanggal vendredi 19 novembre 2010, 00:07 (malam hari banget nulisnya pasti gw lagi kesel ;P)

kabar terakhir dari kancah kesehatan masyarakat Indonesia yang lumayan booming adalah pelarangan iklan susu formula (sufor) terhitung tahun 2011 yang disetujui oleh ibu Menteri Kesehatan kita. tiada kata lain, hanya saya cuma dapat bilang: BRAVO!

salut kepada ibu ini, karena berani mendobrak industri susu di Indonesia, dimana menurut pandangan saya iklan susu (dan makanan instan) di televisi sungguh-sungguh agak berlebihan, dengan pernyataan bahwa produk mereka dapat membuat anak cerdas lah, kuat lah dan sebagainya. menurut pandangan pribadi saya, sungguh informasi seperti itu cenderung tidak informatif mengenai aspek apa saja yang diperlukan dalam perkembangan masa tumbuh seorang anak.

i am not against susu formula. saya pro ASI.

saya adalah salah satu dari beberapa ibu yang terbantu dengan kehadiran sufor ini, karena saya hanya dapat menyediakan ASI kepada anak saya sampai usia 5 bulan saja.

namun, biarpun saya tidak dapat men-supply ASI secara maksimum kepada anak saya, tapi saya bukan ibu yang bodoh, dan saya tidak mau diperlakukan demikian.

saya menyadari bahwa larangan iklan sufor di televisi ini tidak terlepas dari peran gerakan ibu menyusui yang akhir-akhir ini sedang giat mengkampanyekan gerakan ASI. sungguh saya berterima kasih banyak kepada kalian karena larangan iklan tersebut adalah suatu langkah yang maju dalam rangka mengkampanyekan gerakan ASI ini. semoga kampanye gerakan ASI ini tetap dapat berlanjut.

namun sayangnya bulan Oktober-November 2010 ini telah terjadi hal yang sangat tidak mengenakkan hati ibu-ibu yang (terpaksa) menggunakan sufor untuk bayinya. salah satu pengurus asosiasi yang aktif dalam kampanye ini mengeluarkan pernyataan yang mungkin akhir beberapa ibu yang bersimpati jadi tidak bersimpati. akhirnya malah banyak orang merasa kenapa beberapa kampanye ASI baik yang dilakukan oleh suatu asosiasi maupun oleh orang-orang yang pro dan sukses ASI menjadi propaganda ASI NAZI. adapun beberapa ibu mempertanyakan labeling yang diberikan kepada anak yang minum sufor sebagai anak sapi (dan ibu-ibu yang dicap gagal ASI itu sebenarnya sudah berusaha untuk ASIX).

labeling ini membuat saya cukup tersinggung. oleh karena itu, saya akan menyatakan hal-hal sebagai berikut, tidak dalam rangka meminta belas kasihan dari siapapun, bukan sebagai bantahan terhadap kenyataan bahwa saya tidak dapat memberikan ASI secara maksimum kepada anak saya dan juga bukan sebagai alasan-alasan melegalkan perbuatan saya memberikan susu formula kepada bayi saya.

pernyataan saya adalah sebagai berikut:

  1. saya adalah ibu yang pro ASI, saya tidak mengenal cara lain dalam memberikan asupan gizi kepada seorang bayi selain ASI, dari awal hamil sampai sekarang saya hanya tahu bahwa bayi itu disusui oleh ibunya dengan ASI.
  2. saya tidak mengerti mengenai manajemen ASI, hal yang saya sesali, saya pun sudah berusaha ikutan milis ibu-ibu menyusui, tapi saya tidak memperoleh jawaban yang tepat. saya baru mengerti manajemen ASI setelah 5 bulan, dan terima kasih kepada suster di RS St. Carolus bahwa kalian semua begitu helpful. (saya merekomendasikan untuk ibu-ibu yang ingin mengetahui seluk beluk ASI, konsultasilah ke RS St. Carolus, informasi mereka tidak judgemental).
  3. saya beruntung mempunyai keluarga, bapak dan ibu mertua, bapak dan ibu kandung yang sangat suportif dengan tekad saya untuk memberikan ASI. mungkin tidak semua seberuntung saya, mempunyai keluarga yang pro ASI. dan suami yang rajin memberikan dukungan dengan membeli buku ASI dan mengantar saya konsultasi. jadi kalaupun saat itu saya gagal memberikan ASI, bukan karena keluarga saya tidak mendukung, tapi ketidaktahuan saya tentang manajemen laktasi.
  4. saya tidak suka dengan cara-cara beberapa ibu-ibu yang cenderung menghakimi “kenapa gak ASI”, “masa gak bisa ASI”… cara begitu bukan solusi, malah membuat orang yang sedang berupaya tertekan. andai saja ada yang bisa berkata saat itu: ada yang bisa saya bantu tentang ASI, itu lebih melegakan.
  5. ternyata membaca e-mail milis atau twit tentang keberhasilan seseorang pumping ASI atau lulus S1 S2 S3 sebenarnya lebih cenderung membuat orang tertekan. ternyata bukan saya yang mengalami, teman saya pun yang sedang usaha juga. minder jadinya.
  6. saya ingin memberikan ASI kepada anak saya dan hopefully anak kedua bisa sukses ASI bukan ingin ikutan tren. saya sudah menyadari dari dulu, saya hanya tahu bahwa bayi harus diberi ASI, bahkan bertanya memang bisa bayi pakai sufor. saya memilih ASI karena lebih alami, dan karena chemical substances yang terkandung dalam sufor membuat saya tidak mau menggunakan sufor. ketika saya terpaksa melakukannya, semua sudah saya perhitungkan, dengan membaca komposisi sufor yang saya berikan kepada anak saya, dan menghentikan dengan yang lebih alami ketika usia anak saya sudah dapat mencerna susu alami. dalam hal ini termasuk makanan anak saya,saya selalu menggunakan yang organik dan tidak pernah sekalipun kecuali biskuit bayi saya menggunakan makanan instan.
  7. bagi saya, apapun asupannya, tidak akan menyebabkan semerta-merta anak menjadi tidak rentan penyakit ataupun super duper genius. ibarat bensin, ASi dan sufor adalah bensin mobil, tapi kalau mobil tidak dipelihara tetap saja akan rusak. begitu juga jika ibunda lalai memberikan asupan gizi kepada dirinya sendiri sehingga kualitas gizi ibu menyusui menurun tentu akan berdampak kepada anaknya. sama halnya dengan iklan dan marketing sufor yang berlebihan memasarkan produknya, anak jadi cerdas, berempati, kuat, sehat, bisa bikin prakarya, menyebut nama dinosaurus. tidak ada sesuatu yang diperoleh dengan instan. anak harus juga diberikan kasih sayang dan diberikan simulasi.
  8. menurut pandangan saya pribadi kalau memang orang tua ingin anaknya tumbuh kembang secara optimal hingga mencapai seperti iklan di televisi maka orang tua harus melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) perhatikan asupan gizi bayi, pilihlah yang alamiah, ibu harus makan yang bergizi bagaikan memikirkan gizi pada makanan si bayi, (b) anak harus diberikan simulasi dan pengarahan, pendidikan langsung oleh orang tua tentu lebih baik karena orang tua yang tahu anaknya sendiri. tidak ada produk apapun di dunia yang akan menciptakan anak genius dengan sekedar minum susu, dan (c) orang tua harus cerdas dalam mengolah informasi, carilah selalu second opinion, tidak termakan iklan semata namun dapat membuat riset kecil-kecil mengenai produk yang akan dikonsumsi anak kita. terakhir adalah kasih sayang dari keluarganya itu paling penting dan terpenting
  9. saya tidak suka anak saya yang pertama akan terkena label anak sapi. dia adalah anak saya dan suami saya, saya yang mengandung dirinya selama 9 bulan, saya sayang dia sepenuh hati. i’m not a perfect mother, tapi anak saya bukan anak sapi.
  10. ASI atau sufor adalah keputusan individual, memang ASI adalah hak bayi, namun saya yakin bahwa apapun keputusan yang ibu-ibu ambil itu adalah keputusan yang harus kita hargai privacy-nya.

mohon maaf jika ada yang tersinggung namun tulisan ini hanya suatu coretan mengenai perasaan saya semata.

UPDATE

saya alhamdulillah berhasil ASIX untuk anak yang kedua, dengan bantuan dari konsultan laktasi dari KMC Hospital, dukungan penuh keluarga dan Mr.Y, teman-teman semua, saya berhasil. Namun memang akhirnya karena saya kena cacar, saya minta bantuan sufor.

Pluuuuuuus, alhamdulillah teman dan sahabat saya yang konsultasi mengenai perASIan ini dan manajemennya lebih sukses daripada saya. Bukan untuk tinggi hati, tapi inilah yang namanya saling membantu sesama ibu-ibu.

tidak usah diperdebatkan, ini adalah keputusan kami, orang tua dari anak-anak kami.

Advertisements

3 thoughts on “Anak-anak Kami Bukan Anak Sapi

  1. Henry says:

    Sy sedang mencari artikle knpa tidak boleh pake sufor. Sy sayang istri sy, sy sayang anak sy namun sy heran knapa sampe segitunya seorang ibu harus mengorbankan dirinya hanya untuk maksa kasih asi ke anaknya. Sy pun besar dengan 1thn minum asi, 6bln ekslusif sisanya campur tapi penyakitan jg gak sehebat kenyataannya. Sy heran knapa asi ini didewa2kan, istri sy harus kurang tdr dan skit hanya gara2 mindset asi ini. Benar kata ibu, bukan asinya yg mustinya digembar gemborkan namun harusnya nutrisi dan kesehatan ibu menyusui yg dipentingkan. Istri sy sudah 3 bln ksh asi eksklusif dan sy ingin menghentikan perjuangannya karena kelelahan dan jadi mudah sakit dan mulai tidak sabar karena anak rewel lantaran asinya kurang sehingga 1 jam sekali musti bangun dr tdr untuk menyusui, anak pun tdr gak bs lama lantaran gak kenyang. Heran sy sama ibu2 bodoh yg pro asi. Yg terpenting bukan asi, tp kondisi ibu yg menentukan nutrisi asi.

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s