Make Up – ing Ourselves

*lagi pusing dengan kerjaan yang menumpuk di cubicle ney, jadi pengen nulis santai, boleh yaak ๐Ÿ™‚
Di kantor lagi musim promosi neeh, dan musim penilaian akhir tahun yang diselenggarakan awal tahun… ramai dan penuh air mata (bisa nyanyi sekalian “Sampai di sini kisah cinta, berakhiiiiiiir di Januariiiiii huuuuuhuuuuuu).
Yes, awal tahun ini para senior di atas gw sedang sibuk mempersiapkan diri untuk promosi ke jenjang selanjutnya (jangan tanyakan kenapa gw tidak, saya hanyalah bangsa rata-rata kok hehehehe).
Jenjang selanjutnya means kekuasaan lebih banyak, anak buah lebih banyak, penghasilan lebih banyak (alhamdulillah), cubicle lebih besar (ada kursi buat terima tamu) serta yang sering dilupakan sebenarnya: tanggung jawab lebih beraaaaaat…
Dan seperti banyak diketahui, yang namanya karir di dunia perkantoran, apalagi organisasi sebesar kantor gw, berlaku juga hukum piramida (tidak terbalik tapi mengerucut ke atas). So, semakin banyak calon, semakin sedikit posisi yang harus digapai. Yang beruntung adalah yang posisi melawan bangku kosong alias gak saingan dong. Tapi memang ada juga yang 1 vesus 10 orang, yang harus berjuang keras untuk posisi idaman.
Maka daripada itu, melihat bahwa medan perangnya cukup dahsyat, perlulah para calon tersebut membekali diri dengan ilmu-ilmu pasti yang diperlukan untuk posisi idaman serta teknik wawancara.
Yup, mempelajari teknik wawancara menjadikan hal tersebut penting untuk dilakukan, karena wawancara adalah penentu pilihan bos.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di saat promosi, kalau diperhatikan juga terjadi di semua level kehidupan. Mari kita ambil contoh, sekarang kan lagi ada fenomena untuk masuk SD harus diwawancara, whats????, ya ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, untuk masuk ke sekolah pendidikan dasar idaman ada wawancara. Ya masih mending kalau wawancara karena ingin mengetahui kepribadian si anak itu sendiri, ini juga termasuk tes baca tulis. Biasanya beberapa ibu-ibu sudah melatih, yes melatih, sang anak untuk dapat menampilkan sisi terbaik si anak dalam wawancara.
Lain lagi dengan level kehidupan bekerja. Hayo angkat tangan, siapa yang pernah melalui lebih dari 5 kali wawancara kerja sebelum bekerja sekarang? *saya angkat tangan.
Zaman gw masih mengais mencari kerjaan, gw banyak ditawarin ikutan kursus IQ test dan wawancara. does it really exist? yes my friends, it really exist. alhamdulillah sie gw cukup PD berat dengan IQ setengah jongkok gw (hihihihihi) dan kebetulan namanya baru lulus kuliah, gw agak kantong kering :P, jadi gak ikut dech.
Gw sempat bertanya what exactly they teach us? ternyata lembaga demikian mengajarkan teknik-teknik menjawab pertanyaan. dari temen gw yang kebetulan ketemu di suatu tes wawancara lembaga tinggi, gw baru tahu kalau disuruh bikin gambar pohon, buatlah pohon yang berbuah, katanya memang gw punya target hasil. Lho? kalau gitu semua gambarnya sama doooong. Kalo ada garis, disuruh gambar kereta api (pada akhirnya gw gambar kura-kura, teman-teman, because i thought it will look cuter :P). dan akhirnya gambar pohon gw, gw hias dengan gambar bebek dan ayam (dan itu membuat gw kerja di kantor gw sekarang lho, mungkin kantor birokrat perlu orang nyeleneh).
Jangankan untuk lamaran pekerjaan, sekarang pun untuk menjadi caleg ada acara “kursus”nya lho… wow, jadi pemimpin harus dikursusin…
Dan sekarang gw jadi bertanya, apa sebenarnya yang dicari pewawancara kalau ternyata calon di depan mata mereka sama semua?!? Sumpah dech, gw bisa pusing 7 keliling… kebayang kalau calon pelamar berjumlah seratusan, how will you pick the right one for you and the position?
Dengan cara “pemolesan” seperti demikian, apakah akan menjamin bahwa ilmu yang dipelajari dengan singkat dapat bertahan ketika sudah menduduki posisi tersebut? Ilmu sie memang dapat terus berkembang dan kita pelajari (kalau memang niatan kita dari awal untuk bekerja) tapi bagaimana dengan kepribadian calon itu sendiri. Apakah dengan cara singkat orang calon tersebut dapat memenuhi kompetensi minimal dari posisi yang dilamar? in my humble opinion, kepribadian merupakan peta kehidupan seseorang, perubahan yang drastis hanya terjadi kalau memang terjadi keinginan berubah dari orang masing-masing.
Merupakan tugas yang sangat sulit bagi pewawancara untuk menemukan the right one untuk suatu posisi. Mereka harus berusaha maksimal untuk menemukan jarum di antara jerami, menemukan calon-calon yang memang worthed secara kompetensi dan kepribadian untuk fullfil the position. Kalau memang mereka beruntung, mereka akan mempunyai kesempatan beberapa waktu untuk memoles berlian dan pada saatnya mereka tinggal memanen hasil binaan mereka. beruntunglah bagi pimpinan yang diberi kesempatan untuk membina dan membimbing anak buahnya agar dapat memenuhi requirements suatu posisi di level selanjutnya.
Bagi calon pelamar, just be yourself sajalah dan do the best… yakinilah bahwa posisi itu memang sesuai untuk kalian, karena jika suatu posisi tidak sesuai dengan diri sendiri, yang pertama akan menderita adalah diri kita sendiri. Jadi pahamilah medan yang akan kalian masuki, pasti kalian bisa sukses…
Okay, that is all form me… have a good day and please enjoy yourself hehehehehe
Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s