Pada Satu Titik…

Minggu kemaren, setelah kelelahan dengan berbagai pekerjaan, gw berkesempatan membaca forward e-mail dari temen kantor gw Aldi yang isinya tentang tanggapan Dewi Lestari a.ka. Dee tentang pemberitaan kasus (kenapa harus disebut kasus yak? kayak bermasalah dengan hukum aja… – red) perceraiannya dengan penyanyi Marcell. Entah benar atau bukan itu adalah hasil curahan hati sang penulis, tapi tulisannya cukup berbekas pada diri gw, dan ada beberapa kalimat cukup mengena juga.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama.

Temen gw, mas Saf, bertanya pada gw [setelah membaca tulisan ini], “Yas, masa hubungan/pernikahan/cinta bisa seperti itu (kadaluarsa-red)?”

“Ya bisa…”

Nothing lasts forever… seperti judul novel Sidney Sheldon, segalanya pasti ada akhirnya. Entah akan datang cepat, atau datang lambat, segalanya tak ada yang abadi karena keabadian hanya milik Tuhan. Seperti halnya cinta, menurut pandangan gw “cinta itu abadi” hanya ada di kartu ucapan Valentine sepertinya, bahkan cinta itu belum tentu abadi karena cinta akan berhenti dengan sendirinya entah dengan perpisahan atau dengan kematian.

Masalahnya tidak semua manusia menyadari akhir dari “keabadian” itu telah hadir di antara mereka… bisa jadi sudah mengetahuinya namun berada dalam kerangka denial atau memang sudah terjebak dalam hubungan yang tak jelas karena tuntutan lingkungan dan norma-norma di sekelilingnya…

Mungkin bisa gw sebut “anugerah” bagi mereka yang mendapatkan indera yang dapat mendeteksi datangnya “akhir” itu dan dapat menyikapinya dengan bijak. Dan sudah selayaknya kita mengahargai keputusan orang lain tanpa menekan orang tersebut bukan??

Gw tidak berharap “kadaluarsa” itu akan datang cepat pada hubungan gw dengan Ga, tapi gw cuma bisa berdoa jika pun harus hadir, kami berdua masih dianugerahi kebijaksanaan untuk menyikapinya secara arif… dan tentunya gw berharap jikapun dia datang, kami bisa menerimanya dengan tangan terbuka dan lapang dada…

Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s