Pontianak Kota Khatulistiwa

Tanggal 8-10 agustus ini, gw dapat tugas dari kantor melakukan sosialisasi peraturan di wilayah Pontianak. Tugas yang mengasyikan bagi gw secara gw baru satu kali menginjak tanah Kalimantan (baru ke Banjarmasin aja bertemu dgn Ga).

Kotanya sie lumayan, gak “ndeso” kok, cukup maju (tapi jangan dibandingin dengan Medan, Jakarta, Surabaya yak)… mungkin karena dari Pontianak kita dapat langsung menuju Kuching Malaysia atau imbas dengan banyaknya etnis tionghoa, sehingga berimbas kepada kemajuan dari segi perdagangan. Tapi dapat dikatakan kota ini tidak ada matinya di malam hari (kecuali ada pemadaman listrik berkala yang sedikit berimbas pada hotel tempat gw menginap).

Siang hari setelah mendarat di Pontianak, gw dan atasan gw diajak makan siang oleh orang kantor setempat makan di restoran Melayu di daerah Kota Tua (pecinan) bernama Sahara. Tempatnya sie boleh dikatakan agak biasa banget, tp makanannya serba Melayu yaitu full curry… Makanan khasnya sie gulai nanas, katanya enak, tp berhubung hamil sie gak berani cobain (inget kenekatan gw makan nasi goreng nanas thailand di awal kehamilan, karena belum tau juga sie hehehe).

Malam harinya gw makan di cafe Alila yang menyajikan makanan seafood, dan kalian kalo ke sana harus coba yang namanya sambal teri dan sayur daun pakis. Sambal teri ini terdiri dari ulekan cabe merah di masak dengan teri terus sebelum dimakan diperesin semacam jeruk masak (bukan jeruk nipis maupun jeruk purut)… rasanya, sedap nian, pedas dan segar… Kalo daun pakis itu semacam lumut atau daun yang tumbuh merambat di hutan, gak ada di Jawa dech…

Dua hari berturut-turut gw diajak nongkrong di Warung Kopi. Jangan salah duga, warung kopi ini tidak berbentuk kafe maupun gerobak seperti di Jawa, tapi semacam toko yang menggelar tempat duduk banyak. dengan modal Rp5.000 gw sudah dapat segelas kopi dan 2 buah pisang goreng Pontianak. Buat gw kopinya lebih sedap karena cara penyaringan dan pembuatannya yang berbeda. Sedangkan untuk pisang Pontianaknya, biarpun lagi trend di Jakarta disini lebih enak karena pisangnya pada dasarnya manis dan ditambah selai srikaya. Ternyata orang sana suka banget ngumpul malam-malam di warung kopi, dan konopn di daerah Singkawang ada Warkop Pangku, yaitu sambil minum kopi mangku wanita hahaha…

Ohiya, gw sempat juga ke Tugu Khatulistiwa, ternyata memang di tempat itu kita berada di garis Khatulistiwa, sehingga pantas aja kepala gw berasa gosong hihihi…

Guys, kalo ada kesempatan, jangan ragu berkunjung ke pelosok daerah seperti gw, bener2x amazing adventures kok…

Advertisements

Leave a Reply and Thank You!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s